Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Tragedi Nuklir Chernobyl dan Fukushima, Mana Lebih Merusak?

Jumat 07 Jun 2019 00:39 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Dwi Murdaningsih

Pusat kota Okuma di Fukushima, Jepang, Selasa (9/4). Pemerintah Jepang membuka kembali Okuma pascabencana nuklir Fukushima.

Pusat kota Okuma di Fukushima, Jepang, Selasa (9/4). Pemerintah Jepang membuka kembali Okuma pascabencana nuklir Fukushima.

Foto: Kyodo News via AP
Tragedi nuklir Chernobyl dan Fukushima menjadi bencana nuklir yang paling berdampak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia mencatat beberapa kali terjadi bencana nuklir. Barangkali yang paling dikenal adalah Chernobyl dan Fukushima.

Kecelakaan nuklir Chernobyl mengguncang Ukraina pada 1986. Sekitar 25 tahun kemudian, bencana nuklir lain terjadi di Jepang, setelah guncangan gempa bumi 9,0 SR di Tohoku dan tsunami. Bencana alam itu memicu kegagalan sistem di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Gukushima Daiichi.

Seperti dilansir di Live Science pada Senin (27/5), kedua kecelakaan itu melepaskan radiasi nuklir yang dampaknya berjangkauan dan tahan lama.

Namun, bagaimana keadaan Chernobyl dan Fukushima? Peristiwa mana yang menyebabkan lebih banyak kerusakan?

Hanya satu reaktor meledak di Chernobyl, sementara tiga reaktor mengalami kehancuran di Fukushima. Seorang ilmuwan senior dan direktur pelaksana untuk Proyek Keamanan Nuklir Persatuan Ilmuwan Peduli, Edwin Lyman mengatakan kecelakaan di Chernobyl jauh lebih berbahaya, karena kerusakan terjadi pada inti reaktor.

“Akibatnya, lebih banyak produk fisi yang dilepaskan dari inti Chernobyl tunggal,” kata Lyman.

Baca Juga

photo
Lokasi bekas ledakan Chernobyl.


Sementara di Fukushima, inti-intinya terlalu panas dan meleleh, tetapi tidak mengalami penyebaran yang dahsyat. Sehingga, jumlah plutonium yang dilepaskan, jauh lebih kecil.

Dalam kedua kecelakaan, radioaktif yodium-131 merupakan ancaman paling langsung, tetapi dengan waktu paruh delapan hari. Artinya, setengah dari bahan radioaktif membusuk dalam waktu itu, efeknya segera hilang. Di kedua krisis, bahaya jangka panjang muncul terutama dari strontium-90 dan cesium-137, isotop radioaktif dengan waktu paruh 30 tahun.

Chernobyl melepaskan lebih banyak cesium-137 daripada di Fukushima. Sekitar 25 petabecquerels (PBq) cesium-137 dilepaskan ke lingkungan dari tiga reaktor Fukushima yang rusak, dibandingkan dengan perkiraan 85 PBq di Chernobyl. PBq adalah satuan untuk mengukur radioaktivitas yang menunjukkan peluruhan nuklei per detik.

Kondisi Chernobyl menciptakan gelombang radioaktif yang menyebar lebih luas daripada radioaktivitas yang dikeluarkan oleh Fukushima. Sebanyak dua pekerja pabrik terbunuh karena ledakan awal, dan 29 pekerja lainnya meninggal karena keracunan radiasi selama tiga bulan. Banyak dari korban meninggal sengaja terpapar radiasi, ketika bekerja mengamankan pabrik dan mencegah kebocoran lebih lanjut.

Badan Energi Atom Internasional mengatakan pejabat pemerintah merelokasi sekitar 200 ribu orang dari kawasan itu. Pada tahun-tahun berikutnya, kanker pada anak-anak meroket di Ukraina, atau naik lebih dari 90 persen.

Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh badan-badan PBB pada 2005 memperkirakan sebanyak 4.000 orang meninggal karena paparan radiasi dari Chernobyl. Greenpeace International memperkirakan jumlah kematian di Ukraina, Rusia, dan Belarus bisa mencapai 93 ribu orang pada 2006.

Di Fukushima, tidak ada kematian atau kasus penyakit radiasi yang berhubungan langsung dengan kecelakaan nuklir, baik pekerja maupun anggota masyarakat. Namun, tanggap bencana agresif Jepang membuat 100 ribu orang direlokasi dari rumah yang dekat dengan Fukushima. Diperkirakan secara tidak langsung, bencana gempa dan tsunami menyebabkan sekitar 1.000 kematian, sebagian besar adalah usia 66 tahun.

Otoritas Jepang menciptakan zona larangan bepergian di sekitar Fukushima yang membentang sejauh 20 kilometer. Reaktor nuklir yang rusak ditutup secara permanen, sementara upaya pembersihan terus berlanjut.

Sejauh mana dampak lingkungan Fukushima masih belum diketahui, meskipun sudah ada beberapa bukti bahwa mutasi genetik sedang meningkat pada kupu-kupu dari daerah Fukushima menghasilkan deformasi pada sayap, kaki dan mata.

Radiasi dari air yang terkontaminasi yang keluar dari Fukushima mencapai pantai barat Amerika Utara pada 2014. Namun, para ahli mengatakan bahwa kontaminasi terlalu rendah untuk menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia.

Pada 2018, para peneliti melaporkan anggur yang diproduksi di California, setelah kecelakaan Fukushima telah meningkatkan kadar cesium-137 radioaktif. Namun, Departemen Kesehatan Masyarakat California menyatakan anggur itu tidak berbahaya untuk dikonsumsi.

Chernobyl meliputi area 18 mil (30 km) di sekitar reruntuhan pabrik, dan kota-kota dalam batas-batasnya tetap ditinggalkan hingga saat ini. Pohon-pohon di hutan terdekat menjadi merah dan mati, setelah ledakan. Beberapa dekade kemudian, beragam komunitas satwa liar tampak berkembang di zona tersebut, tanpa adanya penghuni manusia.

Pada 2010, pemerintah Ukraina menetapkan bahaya dari paparan radiasi di daerah sekitar Chernobyl diabaikan. Zona pengecualian akan dibuka secara luas untuk turis pada tahun berikutnya (meskipun tinggal di daerah itu masih dilarang).

Namun, orang-orang yang mengunjungi lokasi tertentu lebih dari satu kali akan diberikan dosimeter genggam untuk memeriksa paparan radiasi mereka. Terlebih lagi, tingkat radiasi di sekitar Chernobyl dapat sangat bervariasi.

Survei udara pesawat tanpa awak mengungkapkan pada Mei, radiasi di Hutan Merah Ukraina dikonsentrasikan di hotspot yang sebelumnya tidak diketahui, yang digariskan para ilmuwan dalam peta radiasi paling akurat di kawasan tersebut hingga saat ini.

Pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima masih terbuka dan aktif (meskipun reaktor yang meledak tetap tertutup). Meskipun demikian, ada kekhawatiran yang berkelanjutan tentang keselamatan.

Baru-baru ini, Tokyo Electric Power Company (TEPCO) mengumumkan tidak akan mempekerjakan pekerja asing yang datang ke Jepang, berdasarkan aturan imigrasi yang baru. Perwakilan TEPCO mengutip kekhawatiran tentang kemampuan penutur Jepang non-asli untuk mengikuti instruksi keselamatan pabrik yang sangat rinci.

"Pada akhirnya, kedua bencana itu memberikan pelajaran penting bagi dunia tentang risiko yang melekat dari penggunaan energi nuklir,” ujar Lyman.

Menurut dia, tidak seorang pun boleh meremehkan tantangan untuk memastikan tenaga nuklir cukup aman dalam memainkan peran utama masa depan energi dunia. “Kunci bagi regulator dan operator adalah untuk selalu bersiap menghadapi hal yang tak terduga,” kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA