Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Satu Orang Meninggal dalam 30 Detik Akibat Polusi Plastik

Selasa 14 Mei 2019 17:10 WIB

Rep: rossi handayani/ Red: Dwi Murdaningsih

Puasa plastik (ilustrasi)

Puasa plastik (ilustrasi)

Foto: mgrol101
Plastik menjadi masalah yang mendesak di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, CAMBRIDGE -- Laporan baru menemukan, satu orang meninggal setiap 30 detik di negara-negara berkembang karena penyakit yang disebabkan oleh polusi plastik, dan sampah yang tidak tertampung. Para peneliti menemukan hingga satu juta orang meninggal setiap tahun dari kondisi seperti diare, malaria dan kanker.

Baca Juga

"Laporan ini adalah yang pertama untuk menyoroti dampak pencemaran plastik tidak hanya pada satwa liar tetapi juga pada orang-orang termiskin di dunia," kata Wakil presiden di Fauna & Flora International (FFI), Sir David Attenborough, dilansir dari Sky News, Selasa (14/5).

Laporan tersebut ditemukan oleh lembaga bantuan dan pengembangan internasional Tearfund, bersama dengan Institute of Development Studies, WasteAid dan badan amal konservasi  FFI. Menurut dia, kini sudah saatnya untuk memberikan perhatian lebih kepada salah satu masalah paling mendesak saat ini.

"Mencegah krisis polusi plastik. Tidak hanya untuk kesehatan planet kita, tetapi untuk kesejahteraan orang di seluruh dunia," ujar Attenborough.

Menurut dia, saat ini manusia membutuhkan kepemimpinan dari mereka yang bertanggung jawab untuk memperkenalkan plastik ke negara-negara di mana plastik tidak dapat dikelola secara memadai. "Kami membutuhkan tindakan internasional untuk mendukung masyarakat dan pemerintah yang paling terkena dampak krisis ini," kata  Attenborough.

Secara global, dua miliar orang atau sekitar satu dari empat populasi dunia tidak mengumpulkan sampah mereka. Ini mengarah pada penumpukan sampah di sungai yang menyebabkan banjir, dan penyebaran penyakit menular.

Banyak upaya untuk membuang limbah dengan membakarnya, kemudian menyebabkan asap berbahaya. Ini menjadi sumber emisi karbon terbesar di beberapa negara.

Laporan tersebut telah mendesak perusahaan multinasional, seperti Coca-Cola, Nestle, PepsiCo dan Unilever, untuk secara fundamental mengubah model bisnis mereka. Ini dilakukan dengan berkomitmen untuk melaporkan jumlah barang plastik sekali pakai yang mereka distribusikan di negara berkembang pada 2020, dan mengurangi setengahnya pada 2025.

"Para CEO yang menjalankan perusahaan multinasional ini tidak dapat lagi mengabaikan akibatnya dari setiap penggunaan plastik. Tidak ada waktu untuk disia-siakan," kata perwakilan Tearfund, Dr. Ruth Valerio.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA