Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Badan Riset Kembangkan Budi Daya Udang Windu Air Tawar

Selasa 07 May 2019 18:53 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Esthi Maharani

Udang windu

Udang windu

Foto: ANTARA/Dhedez Anggara
edia pertambakan udang windu di air tawar menggunakan teknologi mina padi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembangkan inovasi budi daya udang windu di air tawar. Media pertambakan udang windu di air tawar menggunakan teknologi mina padi yang memanfaatkan genangan air sawah menjadi kolam air tawar.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP, Sjarief Widjaja, mengatakan, teknologi tersebut dinamanan Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Mina Padi Air Payau (INTAN-AP) Padi Udang Windu (PANDU). Pada Ahad (5/6) lalu, telah dilakukan panen kedua di lahan menganggur yang terdapat di Dusun Uring, Kecamatan Soppengriaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Menurut Sjarief, panen kedua tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan. “Setelah panen pertama berhasil, panen kedua ini luar biasa, berhasil juga. Jadi kita lihat teknologi ini sudah mapan untuk bisa dikembangkan di masyarakat secara luas,” kata Sjarief dalam keterangan resmi diterima Republika.co.id, Selasa (7/5).

Ia menjelaskan, INTAN-AP PANDU merupakan teknologi baru yang mencoba menggabungkan udang windu pada habitatnya hidup di wilayah laut dengan padi yang biasanya hidup di air tawar. Hasil uji coba menunjukkan keduanya dapat hidup. Padi dengan varietas khusus yang mampu bertahan dengan air payau sampai 10 parts per thousand (ppt) dan udang windu yang semula hanya bisa bertahan dalam 45 ppt bisa diturunkan menjadi 10 ppt.

Panen dilakukan di lahan seluas kurang lebih 1 hektare. Adapun komposisinya yakni sekitar30 persen untuk udang dan 70 persen untuk lahan padi. Sementara, lahan tersebut merupakan lahan persawahan milik kelompok masyarakat yang sudah ditinggalkan kurang lebih 10 tahun karena dianggap tidak produktif.

Kegiatan riset ini diinisiasi oleh Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) pada tahun 2018 melalui sinergitas riset antara Balai Riset Perikanan Budi Daya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) dengan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) Kementerian Pertanian (Kementan).

"Keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada pemeliharaan dan manajemen lingkungan yang sesuai untuk kehidupan udang windu dan padi karena keduanya mempunyai toleransi salinitas yang berbeda," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA