Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Pemanasan Global Buat Stok Ikan Dunia Makin Menipis

Senin 11 Mar 2019 11:05 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Christiyaningsih

Suhu yang hangat membuat ikan sulit berenang dan sulit istirahat.

Suhu yang hangat membuat ikan sulit berenang dan sulit istirahat.

Foto: Reuters
Sejak 1939 sampai 2010 stok ikan rata-rata menurun 4,1 persen

REPUBLIKA.CO.ID, NEW JERSEY -- Populasi ikan di lautan dunia semakin menipis dan berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Penelitian baru telah menemukan hal ini dengan konsekuensi yang mengkhawatirkan bagi posisi yang lebih tinggi di rantai makanan, termasuk manusia.

Data yang dikumpulkan sejak 1930 hingga 2010 menunjukkan stok ikan berkelanjutan menurun rata-rata 4,1 persen selama periode waktu tersebut. Di beberapa daerah, termasuk Laut Cina Timur dan Laut Utara, penurunannya mencapai 15 sampai 35 persen.

Para peneliti menyalahkan kedua faktor yakni perubahan iklim dan penangkapan ikan yang berlebihan. Mereka juga menemukan sejumlah kecil populasi ikan benar-benar meningkat. Sebab, sebelumnya air yang lebih dingin menjadi lebih layak huni bagi mereka.

“Populasi ikan hanya bisa mentolerir begitu banyak pemanasan,” kata salah satu peneliti dari tim, Olaf Jensen dari Rutgers University di New Jersey, seperti dilansir Science Alert, Senin (11/3).

“Banyak spesies yang mendapat manfaat dari pemanasan sejauh ini cenderung mulai menurun karena suhu terus meningkat,” ujarnya melanjutkan.

Para peneliti melihat bagaimana pemanasan laut mempengaruhi 235 populasi ikan di seluruh dunia, meliputi 124 spesies di 38 kawasan ekologis. Selain ikan, juga termasuk beberapa krustasea dan moluska.

Air hangat biasanya merupakan berita buruk bagi ikan. Karena, air hangat tidak hanya mengandung lebih sedikit oksigen tetapi merusak fungsi tubuh ikan. Angka 4,1 persen yang dicapai para ilmuwan merujuk secara khusus pada hasil maksimum yang berkelanjutan .

“Penurunan empat persen itu terdengar kecil, tetapi itu setara 1,4 juta metrik ton ikan dari 1930 hingga 2010,” kata peneliti utama Chris Free dari University of California, Santa Barbara.

Dengan stok ikan yang memasok sejumlah besar protein hewani dalam makanan dunia, terutama di pesisir negara-negara berkembang , tren ini mengkhawatirkan. Banyak perikanan di seluruh dunia sudah mulai merespon pemanasan laut. Perikanan yang dikelola dengan baik memungkinkan populasi untuk memulihkan jumlahnya.

Namun mengurangi penangkapan ikan berlebihan sangat penting untuk meminimalkan dampak potensial dari pemanasan lautan, dengan kenaikan suhu air diperkirakan akan terus berlanjut. “Kami merekomendasikan manajer perikanan menghilangkan penangkapan ikan yang berlebihan, membangun kembali perikanan, dan memperhitungkan perubahan iklim dalam keputusan manajemen perikanan,” ujar Free.

“Pembuat kebijakan dapat mempersiapkan perbedaan regional dalam penangkapan ikan dengan membuat perjanjian perdagangan dan kemitraan untuk berbagi makanan laut antara daerah yang menghasilkan lebih banyak dan sedikit,” katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA