Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Sebelum Kirimkan Koloni ke Mars, Ini Saran Ilmuwan

Ahad 19 Mar 2017 06:05 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Bilal Ramadhan

Salah satu foto Planet Mars

Salah satu foto Planet Mars

Foto: ap

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Pada 2016 lalu, dua astronot yakni Scott Kelly (AS) dan Mikhail Kornienko (Rusia) menyelesakan tugas hampir selama setahun di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang merupakan bagian program Journey to Mars dari NASA. Dari program itu, diharapkan akan ada manusia yang dikirim ke Mars pada 2030-an.

Namun, sebuah studi yang dimual dalam jurnal Space Policy menyebut ada aspek yang harus disiapkan Koloni Martian untuk pergi ke Mars dimana persiapan itu sendiri mustahil dilakukan di bumi.

"Kondisi fisik dan lingkungan Mars seperti mikrogravitasi dan paparan radiasi tidak bisa disimulasikan di sini sehingga kita tidak bisa mengukur dampak terhadap fisik dan biologis manusia yang hidup di Mars,'' kata peneliti kognitif University of Information Technology and Management, Rzeszow Polandia, Konrad Szocik seperti dikutip Live Science pekan lalu.

Jawabannya hanya bisa diperoleh bisa ada kesadaran untuk melakukan perjalanan sekali jalan ke Mars dengan segala risikonya. Itu pun tak bisa hanya simulasi di ISS atau di Antartika. Terlebih, orang Antartika juga tidak bergantung pada alat seperti para astronot.

Bukan berarti proses pelatihan di ISS dan Antartika tak berguna. Tapi menurut Szocik, untuk menuju Mars, perlu ada langkah radikal dengan memodifikasi tubuh dan akal manusia.

Ia menyarankan agar ada penguatan sensor elektronik atau meditasi untuk menekan reaksi emosional saat krisis bagi mereka yang akan dikirim ke Mars. Tentu saja, ini baru bisa dilihat di film-film sains fiksi.

Selama ini, fokus pengiriman Koloni Martian lebih pada aspek finasial dan teknologi ketimbang aspek sosialnya. ''Manusia adalah makhluk sosial dan hidup dalam kelompok. Masalah kelompok bisa menimbulkan masalah. Tinggal bagaimana itu dicegah,'' ungkap Szocik.

Ia juga mengomentasi soal reproduksi di Mars yang tak hanya butuh teknologi dan dukungan medis, tapi juga anggota koloni yang banyak. Ia menyarankan setidaknya harus ada 500 anggota koloni agar tak terjadi kawin sesama saudara.

Selain itu, perlu ada pula dukungan teknologi dan medis untuk menekan tingkat mortalitas karena berbagai faktor. Szocik sebelumnya juga pernah menulis tentang manfaat agama di Mars dsn bagaimana psikologi manusia dapat terdampak. Tulisan itu merupakan yang pertama menelaah prediksi perilaku manusia di Mars.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA