Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Mahasiswa Ini Bikin Pengolah Sampah Tenaga Surya

Jumat 10 Jun 2016 01:22 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Dwi Murdaningsih

Pupuk kompos

Pupuk kompos

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Dua dosen dan dua mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) membuat inovasi alat pengolah sampah organik bertenaga surya. Alat yang diberi nama Komposter Bertenaga Surya ini telah meraih Juara III dalam ajang Lomba Teknologi Tepat Guna Tingkat Surabaya tahun 2016 yang diserahkan pada 31 Mei 2016. Riset ini juga berhasil mendapatkan dana hibah dari Dirjen Dikti.  

Para peneliti tersebut yakni Andrew Joewono dan Lanny Agustine yang merupakan dosen Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UKWMS, bersama dua orang mahasiswa semester VI Jurusan Teknik Elektro yakni Pandyapratita Putra dan Alvian Nugraha.

Lanny Agustine menjelaskan, komposter ini dapat dipergunakan untuk mengolah sampah organik seperti daun-daun, sampah dapur seperti sayur maupun buah. Alat ini bekerja dengan listrik yang diperoleh dari solar panel yang mengolah energi cahaya matahari menjadi energi listrik yang disimpan dalam aki.

Solar panel yang digunakan jenis policrystaline, sehingga dengan cahaya matahari yang sedikit saja, sudah dapat menghasilkan listrik. “Jadi dengan cuaca yang agak mendung sekalipun, maka alat ini masih dapat menyimpan energinya,” ujar Lanny, Kamis (9/6).

Lanny menyebutkan, komposter ini memiliki beberapa komponen. Antara lain, panel surya, konverter, aki dan mesin komposter. Konverter ini berfungsi untuk mengubah output panel surya dari 12 Volt menjadi 220 Volt yang dibutuhkan mesin. Aki berfungsi menyimpan daya yang didapat dari panel surya.

Proses pembuatan kompos dinilai cukup sederhana. Sampah-sampah organik yang telah dicacah dan cukup kering dicampur dengan bakteri E-Coli untuk membantu pelapukan. Jika sampah agak basah, harus dicampur dengan kapur dan kulit gabah untuk mengurangi kelembaban. Sebab, jika sampah terlalu basah justru malah menjadi busuk. Kemudian sampah tersebut dimasukkan ke dalam mesin untuk diaduk. Komposter ini berkapasitas maksimal 8 kilogram sampah.

Proses yang digunakan dari sampah menjadi kompos yakni anaerob yang tidak memerlukan oksigen di dalamnya. Untuk membuat kompos sampah ditaruh dalam mesin selama 5-7 hari. Setiap hari, sampah diaduk selama lima menit agar pelapukan merata. Setelah itu, sampah yang menjadi kompos cukup diangin-anginkan selama beberapa jam kemudian bisa dikemas. Sampah kompos ini menyerupai tanah subur dan tidak menimbulkan panas bagi tanaman.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA