Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Cina Siap Bangun Stasiun Tenaga Surya di Luar Angkasa

Senin 18 Feb 2019 18:00 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Dwi Murdaningsih

(File Foto 29/9/2011) Long March-2FT1 yang membawa stasiun ruang angkasa Tiangong-1 saat diluncurkan menuju ruang angkasa.

(File Foto 29/9/2011) Long March-2FT1 yang membawa stasiun ruang angkasa Tiangong-1 saat diluncurkan menuju ruang angkasa.

Foto: Color China Photo via AP
Cina sedang berencana membawa astronaut ke Mars.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Cina dilaporkan sedang bersiap membangun stasiun tenaga surya di luar angkasa. Hal itu memperlihatkan ambisi Cina untuk mengeksplorasi antariksa setelah berhasil mendaratkan pesawat Chang'e-4 di sisi terjauh bulan pada Januari lalu.

Dilaporkan laman the Straits Times, para ilmuwan Cina telah memulai pembangunan pangkalan percobaan di Kota Chongqing. Beijing memang berencana memgembangkan pembangkit listrik yang lebih kecil di stratosfer antara tahun 2021-2025.

Negeri Tirai Bambu pun menargetkan membangun fasilitas tenaga surya level 1 megawatt di ruang angkasa pada 2030. Jika semua misi dan target itu berhasil tercapai, Cina akan membangun generator yang lebih besar.

Tak hanya itu, Badan Antariksa Cina (CNSA) telah mencanangkan misi untuk membawa astronaut mereka melakukan perjalanan ke planet Mars. Misi itu rencananya dilaksanakan pada 2020 mendatang.

Cina berencana membangun stasiun luar angkasa sendiri pada 2022. Stasiun tersebut akan mereka beri nama 'Tiangong', yang artinya Istana Surgawi.

Tiangong dilaporkan akan memiliki modul inti dan dua modul lain untuk keperluan eksperimen. Semuanya berbobot 66 ton dan mampu mengangkut tiga awak, dengan siklus hidup yang dirancang setidaknya hingga 10 tahun.

Fasilitas tersebut akan digunakan untuk penelitian ilmiah di berbagai bidang, termasuk biologi, fisika, dan ilmu material.

Pada 3 Januari lalu, pesawat ruang angkasa Cina, Chang'e-4, berhasil mendarat di sisi terjauh bulan. Pesawat itu dilengkapi dengan spektometer radio frekuensi rendah guna membantu para ilmuwan memahami bagaimana awalnya bintang-bintang berpijar serta bagimana alam semesta muncul setelah Big Bang (ledakan besar).

Dalam misinya, Chang'e-4 juga menyelidiki apakah daratan bulan yang tandus dapat mendukung kehidupan. Gambar yang dikirim kembali oleh pesawat tersebut memperlihatkan daun hijau pertama dari biji kapas sembilan hari setelah masa percobaan.

Saat ini Cina menganggarkan dana sebesar 8 miliar dolar AS untuk program antariksanya. Jumlah tersebut menempatkan Beijing sebagai negara dengan anggaran luar angkasa terbesar kedua setelah AS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA