Selasa, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 Februari 2019

Selasa, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 Februari 2019

Pertanda Buruk, Lautan Paling Biru di Dunia Jadi Lebih Biru

Senin 11 Feb 2019 07:16 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Indira Rezkisari

Air laut memperoleh warnanya berkat mikroorganisme yang disebut fitoplankton

Air laut memperoleh warnanya berkat mikroorganisme yang disebut fitoplankton

Foto: EPA
Perubahan warna laut kemungkinan akan memiliki efek domino bencana.

REPUBLIKA.CO.ID, BOSTON -- Menurut para peneliti di Massachusetts Institute of Technology, di masa depan perubahan iklim akan menyebabkan biru laut terlihat lebih biru dan hijau laut terlihat lebih hijau. Namun sayangnya, itu bukan pertanda yang baik.

Untuk memahami bagaimana ini akan terjadi, Anda harus terlebih dahulu memahami mengapa samudra berwarna biru. Weather Channel jelaskan, air memperoleh warnanya berkat mikroorganisme yang disebut fitoplankton. Organisme tersebut mengandung klorofil, yang merupakan pigmen penyerap bagian biru dari spektrum cahaya dan memantulkan bagian hijau dari spektrum cahaya.

Itu berarti jika air memiliki lebih banyak fitoplankton, air akan menjadi lebih hijau. Bagian lautan tanpa organisme ini terlihat lebih biru.

Tingkat pertumbuhan fitoplankton, CNN menjelaskan lebih lanjut, tergantung pada berapa banyak sinar matahari, karbon dioksida, dan nutrisi di sekitarnya. Dan, karena perubahan iklim akan mengubah semua hal di atas, akan ada lebih sedikit nutrisi untuk dimakan fitoplankton.

Area yang paling terkena dampak perubahan kemungkinan akan berada di wilayah subtropis seperti, Bermuda dan Bahama, menurut temuan tim, yang diterbitkan di jurnal Nature Communications. Sebaliknya, ia menemukan tempat-tempat seperti Atlantik Utara dan Antartika akan menjadi lebih hangat, membawa lebih banyak nutrisi ke daerah itu, sehingga mengubah air menjadi lebih hijau.

"Model ini menunjukkan perubahan tidak akan tampak besar dengan mata telanjang, dan lautan akan tetap terlihat seperti memiliki daerah biru di daerah subtropis dan hijau di dekat khatulistiwa dan kutub," kata salah satu penulis studi dan ilmuwan riset utama di MIT Department of Earth, Atmospheric, and Planetary Sciences, Stephanie Dutkiewicz, dilansir dari laman Travel and Leisure.

"Pola dasar itu akan tetap ada di sana. Tapi itu akan cukup berbeda sehingga akan memengaruhi sisa jaring makanan yang didukung fitoplankton," lanjut Dutkiewicz.

Menurut penelitian, perubahan ini kemungkinan akan terjadi pada akhir abad ke-21. Perubahan ini juga kemungkinan akan memiliki efek domino bencana, tidak hanya apa yang dimakan hewan laut, tetapi apa yang dimakan manusia juga.

"Perubahan itu bukan hal yang baik, karena pasti akan berdampak pada sisa jaringan makanan. Fitoplankton ada di pangkalan, dan jika pangkalan itu berubah, itu membahayakan segala hal lain di sepanjang jaring makanan, cukup jauh untuk beruang kutub atau tuna atau apa pun yang ingin Anda makan atau suka lihat dalam gambar," ungkap Dutkiewicz.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES