Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Badak Jawa di Ujung Kulon Terancam Dampak Tsunami

Kamis 03 Jan 2019 18:22 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah

Badak Jawa

Badak Jawa

Foto: WWF Indonesia
Badak jawa yang tersisa di taman itu adalah satu-satunya yang tersisa di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para konservasionis telah memperingatkan jika terjadi tsunami lagi, seluruh spesies badak jawa dapat terancam punah. Mereka pernah menjelajahi hutan-hutan Asia Tenggara dan India, tetapi saat ini hanya ada 67 badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon yang dilanda tsunami lalu.

Dilansir di BBC, taman itu berada di bawah bayang-bayang Anak Krakatau. Gunung berapi tetap aktif dan para pejabat sekarang bergegas untuk memindahkan badak jawa.

Dua pejabat taman nasional termasuk di antara 430 yang tewas akibat tsunami, banyak bangunan taman. Kapal juga hancur ketika tsunami menghantam Sabtu lalu. Badak jawa yang tersisa di taman itu adalah satu-satunya yang tersisa di dunia.

Badak biasanya hidup di sepanjang pantai selatan taman dan tsunami ini menghantam pantai utara. Banyak yang sangat sadar badak mungkin tidak begitu beruntung jika ada bencana lain.

Seluruh spesies dalam bahaya

Badak jawa adalah yang paling terancam dari lima spesies badak di dunia dan telah terdaftar sebagai Sangat Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN. Mereka pernah ditemukan di India timur laut dan di seluruh Asia Tenggara, tetapi populasi mereka semakin berkurang karena perburuan, perusakan habitat melalui pertanian, dan faktor-faktor lainnya. Menurut WWF, sisa badak jawa di Vietnam diburu pada 2010.

Badak jawa terakhir di Vietnam

"Karena tidak ada badak jawa di penangkaran di mana pun di dunia, jika kita kehilangan populasi ini, kita pada dasarnya telah kehilangan seluruh spesies," kata seorang perwira WWF, Nicola Loweth dalam sebuah pernyataan tentang badak di Indonesia.

Menurut pemantauan, Anak Krakatau mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik sejak Juni awal tahun ini. Sabtu lalu aktivitas gunung berapi dari Anak Krakatau diyakini telah memicu tanah longsor di bawah laut dan akhirnya menjadi tsunami yang sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 430 orang.

Pihak berwenang mengatakan Anak Krakatau menjadi semakin aktif dengan letusan Strombolian, ledakan pendek dan mengeluarkan lahar yang terpancar. "Kami memahami tidak dapat membiarkan badak jawa hidup hanya di Ujung Kulon," kata Ketua Yayasan Badak Indonesia (YABI), Widodo Sukohadi Ramono.

Ramono menambahkan ada rencana memindahkan sekelompok badak yang lebih kecil ke lokasi sekunder, meskipun ada banyak yang harus dipertimbangkan. Badak yang akan dipindahkan harus dalam keadaan sehat, memiliki ikatan dekat satu sama lain, dan dapat bereproduksi. Memindahkan badak ke lokasi lain lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Lokasi baru harus memiliki lebih dari 200 spesies tanaman yang menjadi sumber makanan bagi badak jawa. Ini juga perlu memiliki persediaan air yang banyak, jenis tanah yang ideal, kondisi tanah, dan tempat dengan iklim basah sepanjang tahun.

"Sulit untuk menemukan lokasi yang sempurna. Kita membutuhkan setidaknya lima ribu hektare di satu lokasi. Itu harus menyediakan makanan dan air untuk badak. Kita perlu tahu penyakit apa yang ada di sana, jika ada predator, seberapa mendukung masyarakat setempat," kata Kepala TNUK Mamat Rahmat.

Pejabat pemerintah telah mencari selama bertahun-tahun untuk menemukan lokasi kedua yang cocok untuk badak jawa. Mereka seharusnya menemukan satu di 2017, tetapi itu tidak terwujud.

"Terkadang rencana itu tidak berhasil," kata Pak Mamat.

Menurutnya, ada banyak kendala, faktor teknis, kendala internal, dan pertimbangan faktor eksternal. Mamat menambahkan pemerintah telah menyurvei 10 lokasi yang memungkinkan. Satu telah muncul sebagai kandidat yang cocok, yakni Suaka Margasatwa Cikepuh di Jawa Barat.

Namun, ada beberapa yang menjadi kendala. "Ada kesepakatan (di sana) dengan tentara tentang penggunaan tanah untuk latihan tempur. Kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana (suara) senjata dan meriam dapat (berdampak) pada badak," ucap Mamat.

Aktivitas manusia yang bisa membahayakan badak juga ada di sekitar suaka margasatwa itu. Rencana untuk pindah ke Suaka Margasatwa Cikepuh tampaknya terhenti, tetapi setelah tsunami baru-baru ini, pejabat sekali lagi bergerak dengan urgensi.

Mamat mengaku akan mengambil langkah lebih cepat dalam mempersiapkan habitat kedua untuk badak. Jika suatu hari Ujung Kulon dilanda letusan, maka mereka berharap masih ada cadangan badak jawa di tempat baru.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA