Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Teknologi Sidik Jari Siap Menggusur Kata Sandi

Sabtu 18 Dec 2010 13:03 WIB

Rep: Agung Sasongko/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: Big Stock Photo

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Penggunaan kata sandi sebagai pembuka akun online tampaknya segera berakhir. Pasalnya teknologi pemindai sidik jari tengah disiapkan guna menggantikan kata sandi sebagai pelindung kerahasiaan pemilik akun online.

Perubahanan ini diprediksikan dapat memberikan solusi signifikan terhadap mobilitas masyarakat di dunia maya. Apalagi, masyarakat tidak lagi hanya memiliki satu akun online.

Penggunaan pemindai sidik jari tentu sangat dinanti, mengingat kejahatan cyber semakin mengkhawatirkan. Beberapa waktu lalu, Gewker, perusahaan media online dan blog melaporkan 1.3 juta kata sandi berhasil dicuri. Fakta itu sangat menggambarkan betapa menakutkannya aksi para hacker. 

Sistem yang tengah dikembangkan mahasiswa pascasarjana Southampton University, Sara Alotaibi, telah diujicobakan kepada 100 orang. Hasilnya, secara komersial masyarakat cukup puas dengan kemampuan pemindai sidik jari.

Para ahli bahkan memuji temuan Sarah, dan mengharapkan teknologi itu segera dimasyarakatkan. "Teknologi ini memberikan kemudahan kepada pengguna untuk menjaga keamanan banyak akun," ujar Sarah seperti dikutip dari dailymail.co.uk, Jum'at (17/12).

Untuk mengembangkan FingerID, sang mahasiswi berdarah Arab Saudi itu mengevaluasi sistem yang memiliki kata sandi. Hasilnya, keamanan akun tidak terjamin maksimal.

Dalam temuannya, Aloitaibi menyimpulkan kebanyakan individu cenderung menggunakan nama pengguna yang sama dengan kata sandi yang digunakan untuk seluruh akun online. Akibatnya, kata dia, resiko terserang hacker sangat tinggi.

Dengan memanfaatkan pemindai sidik jari yang bisa dibeli seharga £ 40 (Rp570 ribuan),ia mengembangkan sistem yang mengganti kata sandi dengan sidik jari. Setelah sistem digunakan, pengguna akun tidak perlu lagi memasukan sidik jari layaknya kata sandi.

Pembimbing Alotaibi, Dr David Argles, Pengajar School of Electronics and Computer Science mengatakan persoalan bocornya kata sandi online berawal dari pemilik akun sendiri. Menurut dia, kebanyakan dari pemilik akun menggunakan kata sandi yang sama untuk sejumlah akun. 

"Sistem yang dikembangkan Altoiabi memungkinkan individu untuk mengelola semua rekening mereka dari situsnya," kata dia. "Hal ini membuat hidup lebih mudah bagi orang yang mungkin bermasalah dengan daya ingat atau tidak dapat melihat dengan jernih layar komputer sehingga laman-laman seperti Facebook, Twitter, email dan online banking dapat diakses dengan satu sentuhan jari."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA