Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Waspadai Hoaks Seputar Liburan

Kamis 06 Jun 2019 02:30 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Hoax. Ilustrasi

Hoax. Ilustrasi

Foto: ABC News
Waspadai hoaks semasa liburan terkait pelayanan hotel, restoran, dan tempat wisata.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Pelaksana Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Program Vokasi Humas Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengingatkan masyarakat agar waspada akan maraknya hoaks atau berita bohong pada saat liburan. Ia mengatakan bahwa liburan menjadi salah satu momentum yang tidak terlepas dari terjangkitnya virus sosial, penyebaran hoaks.

Baca Juga

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Universitas Central Florida Rossen College, menurut Devie, media sosial menjadi sumber informasi liburan yang tidak terbatas. Termasuk di antaranya tentang evaluasi tentang pelayanan hotel, rumah makan, dan tempat-tempat wisata.

"Satu dari tiga evaluasi tentang fasilitas liburan adalah informasi palsu," ujar Devie, Founder Klinik Digital Vokasi, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Antara, belum lama ini.

Devie yang juga Ketua Program Studi Vokasi Humas UI mengatakan, para pemberi tinjuan sengaja memberikan penilaian negatif. Mereka punya tujuan tersendiri soal itu, yakni mendapatkan kompensasi finansial dari komentar yang diberikan di media sosial.

Menurut Devie, ketika tulisan yang diberikan kemudian dibaca oleh banyak orang, maka reviewer akan mendapatkan keuntungan ekonomi dari setiap komen atau klik yang diberikan oleh pembaca lain. Selain itu, ada juga website dan aplikasi palsu yang mengatakan bahwa mereka menjual barang-barang mewah misalnya, namun dengan harga diskon yang membuat banyak konsumen tergiur.

Kenyataannya mereka hanya ingin mengambil data konsumen, termasuk data keuangan seperti kartu kredit. Devie mengatakan, hal seperti itu dapat terjadi di mana pun.

Di Eropa pada 2018, menurut devie, terdapat 5.000 orang menjadi korban penipuan pemesanan daring di saat liburan, dengan nilai kerugian mencapai tujuh juta poundstreling. Sebagian besar penipuan (53 persen) adalah pemesanan tiket pesawat.


sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA