Rabu, 17 Ramadhan 1440 / 22 Mei 2019

Rabu, 17 Ramadhan 1440 / 22 Mei 2019

WHO: Balita tak Boleh Lebih dari Satu Jam Tatap Layar Gawai

Kamis 25 Apr 2019 04:14 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Reiny Dwinanda

Bayi melihat layar gawai.

Bayi melihat layar gawai.

Foto: Flickr
Bayi di bawah usia satu tahun sama sekali tidak boleh terpapar layar elektronik.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA-- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan anak-anak berusia dua hingga empat tahun seharusnya tidak diperbolehkan menatap layar elektronik lebih dari satu jam. Organisasi tersebut juga mengungkapkan bayi yang berusia kurang dari satu tahun tidak boleh terpapar layar elektronik sama sekali.

Menurut WHO, balita juga harus aktif secara fisik dan tidur yang cukup untuk membantu mengembangkan kebiasaan seumur hidup yang baik dan mencegah obesitas serta penyakit lain di kemudian hari. Aturan tentang durasi menatap layar elektronik itu berlaku baik untuk menonton televisi, main video, ataupun bermain gim komputer.

Bayi berusia antara satu hingga empat tahun harus menghabiskan setidaknya tiga jam melakukan berbagai kegiatan fisik sepanjang hari. Bayi di bawah satu harus berinteraksi dalam permainan yang bergerak dan menghindari semua layar elektronik.

WHO kemudian mengungkapkan menjadi tidak aktif adalah faktor utama kematian dan memicu kenaikan kelebihan berat badan dan obesitas secara global. Dalam sebuah laporan dua tahun lalu, WHO mengatakan jumlah anak-anak dan remaja gemuk di seluruh dunia telah melonjak 10 kali lipat menjadi 120 juta dalam 40 tahun terakhir.

Kenaikan itu meningkat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di Asia. Berat badan berlebih dapat menyebabkan penyakit, termasuk diabetes, hipertensi, dan beberapa bentuk kanker.

“Perilaku kurang aktif, entah berupa mengendarai kendaraan bermotor daripada berjalan atau bersepeda, duduk di meja sekolah, menonton TV atau bermain gim berbasis layar elektronik semakin lazim dan terkait dengan hasil kesehatan buruk,” kata WHO, seperti yang dilansir dari Malay Mail, Rabu (24/4).

Selain itu, kurang tidur kronis pada anak-anak telah dikaitkan dengan peningkatan akumulasi lemak berlebihan yang diukur dengan indeks massa tubuh (BMI). Durasi tidur yang lebih pendek dikaitkan dengan lebih banyak menonton TV dan menghabiskan waktu bermain gim komputer.

Meningkatkan aktivitas fisik, perilaku kurang aktif, serta waktu tidur anak-anak akan berkontribusi pada kesehatan fisik mereka, mengurangi risiko pengembangan obesitas di masa kecil, dan penyakit tidak menular di kemudian hari, serta meningkatkan kesehatan mental, demikian pernyataan WHO.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA