Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Aktif di Medsos, Generasi Z dan Milenial Rasakan Kesepian

Senin 18 Mar 2019 19:36 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi Media Sosial

Ilustrasi Media Sosial

Foto: pixabay
Generasi Z dan milenial mengaku merasa kesepian meski punya banyak teman di medsos.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Teknologi digital kian mendominasi tatanan hidup manusia. Di satu sisi, teknologi informasi membuat hidup semakin mudah, namun di sisi lain ternyata kemajuan teknologi bisa membuat seseorang merasa terisolasi dan kesepian.

Jika dilihat dari kaca mata kesehatan mental, perasaan sepi dan terisolasi telah dikategorikan sebagai epidemi dan ancaman kesehatan masyarakat, terutama di kalangan orang tua. Sekarang, anak-anak muda yang aktif di media sosial juga merasakan hal serupa.

Baca Juga

Para pakar kesehatan dan pakar media sosial di Austin, Amerika Serikat, menyebut banyak generasi muda di Austin dilaporkan kesepian. Anak-anak muda itu sehari-hari terbiasa berisik dengan aneka ragam percakapan. Begitu sepi, mereka kesulitan menerima kondisi itu.

Menurut Dawn Fallik, seorang profesor di Universitas Delaware di Newark yang sedang mengerjakan sebuah buku tentang kesepian, generasi muda merasa ada yang salah dengan sepi. "Orang-orang muda benar-benar kaget dan kewalahan ketika kesepian," kata Fallik, seperti dikutip NBC News, Sabtu (16/3).

Menurut survei perusahaan kesehatan Cigna pada tahun lalu, 46 persen dari 20 ribu orang dewasa dilaporkan kadang-kadang atau selalu merasa sendirian. Sebanyak 47 persen di antaranya selalu merasa ditinggalkan. Generasi Z yang berusia 18 hingga 22 tahun dan milenial usia 23 hingga 37 tahun juga merasa sangat kesepian meski dikelilingi teman-teman di dunia nyata maupun maya.

Holt-Lunstad, seorang profesor psikologi, ilmu syaraf dan direktur Laboratorium Hubungan Sosial dan Penelitian Kesehatan Brigham Young menduga bahwa tingkat kesepian generasi muda saat ini lebih tinggi dari pada generasi sebelumnya.

Daniel Russell, seorang profesor pengembangan manusia dan studi keluarga di Iowa State University mengatakan, penelitian tentang efek media sosial tidak ada hubungan antara kesepian dan media sosial. Menurutnya, riset telah membuktikan kesepian lebih merupakan dampak dari kualitas pertemanan.

"Yang kita lihat sekarang adalah adanya laporan dari orang-orang yang sebetulnya punya banyak teman dekat dan tidak terisolasi secara sosiap, namun mereka mengaku kesepian," ujar Russel.

Untuk itu, Holt-Lunstad merekomendasikan agar generasi muda memanfaatkan media sosial dengan lebih cermat. Ia mengingatkan bahwa membandingkan kehidupan dengan orang lain atau menghabiskan waktu mencermati postingan orang lain bisa membawa dampak negatif.

"Sebaiknya, gunakan media sosial untuk berinteraksi dan memfasilitasi terjalinnya hubungan," ungkapnya.

Terlepas dari penggunaan media sosial, anak muda juga bisa jadi kesepian lantaran fase baru kehidupannya. Terlebih bagi mereka yang baru pindah kota karena mengejar karier, seperti anak muda pendatang baru di kota Austin.

"Kalau itu sih persoalan semua orang, bukan hanya kaum muda yang mengalami kesepian di tempat baru," ungkap David Stillman, penulis dan pakar perbandingan antargenerasi.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA