Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Menggeser Dagangan ke Lapak Online

Jumat 04 Agu 2017 00:03 WIB

Rep: Halimatus Sadiyah/ Red: Yudha Manggala P Putra

Calon pembeli melihat koleksi fashion terbaru mealui salah satu gerai E-Commerce melalui telfon genggamnya di Jakarta, Senin (31/7).

Calon pembeli melihat koleksi fashion terbaru mealui salah satu gerai E-Commerce melalui telfon genggamnya di Jakarta, Senin (31/7).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjamurnya platform perdagangan daring di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan menunjukkan adanya pergeseran gaya berbelanja di kalangan masyarakat. Tren ini kemudian mendorong sejumlah pengusaha ritel untuk berbondong-bondong memanfaatkan lapak maya tersebut.

Salah satunya dilakukan Romi Solahuddin. Pria ini semula berjualan barang-barang kebutuhan bayi di sebuah toko pinggir jalan di Parung, Bogor. Setelah dua tahun mengelola usaha, ia memutuskan menutup toko fisik dan beralih memanfaatkan platform daring untuk berjualan.

Ada sejumlah pertimbangan yang mendasari keputusannya ini. "Jualan offline banyak biaya," tutur Romi, pada Republika.co.id, Kamis (3/8).

Biaya-biaya tersebut antara lain sewa toko, gaji karyawan hingga pungutan-pungutan liar. Sementara jika berjualan online, Romi bisa memiliki lima toko virtual sekaligus dengan memanfaatkan sejumlah platform e-commerce dan sosial media.

Ia menilai, cara ini lebih praktis dan menguntungkan. Sebab, target pasar makin luas sehingga omzet pun bertambah. Namun, Romi mengakui ia harus menekan harga jual agar produknya dilirik konsumen. "Soalnya di online itu kita perang harga," ucap dia.

Pengalaman sama juga dialami Hani Elvawati. Pebisnis  kue ini mulanya berjualan di toko pinggir jalan. Setelah dua tahun, Hani menyewakan toko milik orang tuanya tersebut pada orang lain. Kini ia menerima pesanan kue secara online.

Salah satu keuntungannya menurut dia adalah bisa membuat kue sesuai pesanan saja. "Lebih enak made by order saja, barang tidak numpuk. Kalau di toko selalu ada stok yang tidak terjual walaupun enggak banyak."

Pengamat ekonomi dari CORE Indonesia Muhammad Faisal menilai, menjamurnya platform e-commerce di Indonesia memiliki banyak sisi positif. Salah satu paling menonjol adalah menjangkau UKM bermodal kecil.

Selain itu, dari sisi efisiensi dan kompetensi, perdagangan online juga lebih unggul. "Karena ada banyak mata rantai yang dipotong. Saya pikir itu bagus," ujarnya, saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (3/8).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA