Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Pemerintah dan Bisnis di Asia Diganggu WannaCry Meski tak Parah

Senin 15 May 2017 18:57 WIB

Rep: dyah ratna meta novia/ Red: Winda Destiana Putri

Serangan siber yang diakibatkan oleh ransomware.

Serangan siber yang diakibatkan oleh ransomware.

Foto: bbc

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemerintah dan bisnis di Asia melaporkan kalau mereka telah diganggu oleh virus WannaCry pada hari Senin. Namun pakar keamanan dunia maya memperingatkan adanya dampak yang lebih luas karena lebih banyak karyawan menyalakan komputer mereka dan memeriksa emailnya saat hari kerja.

Di Cina, ekonomi terbesar kedua di dunia, sistem pembayaran dan layanan pemerintah dilaporkan mengalami beberapa gangguan dari serangan ransomware. Namun serangan tersebut lebih sedikit daripada yang dikhawatirkan. Gangguan di Asia cukup rendah seperti di Jepang, India, Korea Selatan, dan Australia.

Virus WannaCry yang meledak pada hari Jumat mengunci ratusan ribu komputer di lebih dari 150 negara. Virus tersebut mengganggu kinerja pabrik, rumah sakit, toko, dan sekolah di seluruh dunia.

Serangan di Asia pada hari Senin tidak terlalu parah daripada yang diantisipasi. Ini menjadi pelajaran bagi industri profesional di masa depan adanya potensi terjadinya risiko serangan. Perusahaan yang terkena virus tersebut, biasanya tertular melalui email yang menyebar.

Direktur Ancaman Intelijen, Asia Pasifik di perusahaan keamanan dunia maya FireEye Inc FEYE.N. Tim Worldwide mengatakan, kami melihat profil korban dan banyak korban di kawasan Asia Pasifik. "Tapi ini adalah kampanye serangan global, tidak ada yang ditargetkan tertentu," katanya dilansir Reuters Senin, (15/5). Namun hal ini tak bisa dikatakan hal tersebut tak mempengaruhi wilayah ini dan wilayah-wilayah lain.

Managing Director Network Box, perusahaan keamanan dunia maya di Hong Kong,  Michael Gazeley mengatakan, masih ada banyak ranjau darat yang menunggu di kotak masuk  email di wilayah tersebut. Serangan WannaCry kebanyakan masuk melalui email.

Namun pasar keuangan di Asia tidak terpengaruh oleh berita tentang serangan siber tersebut. Harga saham sebagian besar naik di wilayah tersebut pada siang hari. Di Cina, raksasa energi PetroChina (601857.SS) mengatakan, sistem pembayaran di beberapa stasiun bensinnya mengalami gangguan. Namun mampu dipulihkan sebagian besar sistemnya. 

Beberapa badan pemerintah Cina, termasuk polisi dan petugas lalu lintas, melaporkan bahwa mereka terkena dampak serangan tersebut. Ini disampaikan melalui microblog resminya.

Perusahaan teknologi China Qihoo 360 mengatakan, tingkat infeksi WannaCry pada hari Senin telah melambat secara signifikan sejak dua hari terakhir. "Ketakutan sebelumnya terhadap infeksi skala besar pada institusi domestik tidak terwujud, "kata perusahaan tersebut. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA