Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Bitcoin Dorong Pemanasan Global

Selasa 30 Oct 2018 17:39 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Bitcoin.

Bitcoin.

Foto: Reuters/Benoit Tessier
Emisi kumulatif bitcoin dorong pemanasan global lampaui dua celcius dalam 22 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenaikan bitcoin dapat meningkatkan pemanasan global menjadi dua derajat celcius lebih tinggi hanya dalam dua dekade. Analisis tersebut lahir dari para peneliti di University of Hawaii di Manoa.

Cryptocurrency telah muncul dalam beberapa tahun terakhir sebagai sarana baru untuk menyelesaikan transaksi keuangan daring. Namun, para ahli semakin khawatir tentang dampak lingkungan yang akan ditimbulkan

Permintaan mata uang semacam itu meningkatkan emisi karbon. Sehingga pada gilirannya menambah efek pemanasan global secara keseluruhan.

Dalam sebuah studi baru yang meneliti seluruh rangkaian peristiwa yang mengarah pada penciptaan bitcoin mengungkap bagaimana pertumbuhan yang diproyeksikan dari cryptocurrency ini akan membahayakan iklim. Sebagai perbandingan, para ilmuwan mengumpulkan data tentang penggunaan 40 teknologi berbeda mulai dari mesin pencuci piring dan e-book hingga tenaga listrik dan internet. Mereka menggunakan informasi ini untuk memperkirakan tingkat penyerapan cryptocurrency akan terlihat di tahun-tahun mendatang.

Berdasarkan penilaian mereka yang paling konservatif, tim menemukan emisi kumulatif dari bitcoin akan cukup untuk mendorong pemanasan global melampaui dua celcius dalam 22 tahun. Jika tingkat rata-rata penggunaan teknologi digunakan, angka ini mendekati 16 tahun.

"Saat ini, emisi dari transportasi, perumahan dan makanan dianggap sebagai kontributor utama untuk perubahan iklim yang sedang berlangsung," kata mahasiswa master dan rekan penulis makalah Katie Taladay, dikutip dari Independent, Selasa (30/10).

Bitcoin berjalan dalam proses yang menuntut secara komputasi, dengan persyaratan perangkat keras yang berat. Namun, sifat yang sulit dipahami dari proses ini berarti menentukan jejak karbonnya dapat terbukti rumit. Untuk mengatasinya, ilmuwan menganalisis efisiensi daya komputer yang digunakan dalam penambangan bitcoin, lokasi penambang di seluruh dunia dan emisi CO2 dari listrik di negara-negara tersebut.

"Penelitian ini menggambarkan kalau bitcoin harus ditambahkan ke daftar ini," ujar Taladay.

Laporan yang diterbitkan dalam Nature Climate Change memperingatkan untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim, seperti kepunahan terumbu karang dan hilangnya es Arktik. Pemanasan harus dibatasi hingga 1,5 derajat celcius saja.

Meskipun bitcoin telah berkembang pesat dalam sejak diperkenalkan, pertumbuhan ini agak stagnan selama 10 bulan terakhir. Hal tersebut menunjukkan kekhawatiran tentang dampak iklim mungkin terlalu dini.

Tapi, kalau bitcoin tidak sesuai dengan harapan untuk pertumbuhan di masa depan, itu mungkin disingkirkan oleh cryptocurrency lain. Bisa jadi, model baru itu mungkin memiliki jejak karbon yang cukup besar.

"Jelas, pengembangan lebih lanjut dari cryptocurrency harus secara kritis bertujuan untuk mengurangi permintaan listrik, jika konsekuensi yang berpotensi merusak dari pemanasan global harus dihindari," kata pemimpin penelitian Profesor Camilo Mora.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA