Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Instagram Blokir Tagar Informasi Salah Soal Vaksin

Sabtu 11 Mei 2019 04:22 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Christiyaningsih

Vaksin (ilustrasi).

Vaksin (ilustrasi).

Foto: AP Photo/Rogelio V Solis
Instagram memblokir tagar yang menautkan informasi salah atau bohong tentang vaksin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Instagram memblokir tagar yang menautkan informasi salah atau bohong tentang vaksin. Juru bicara Instagram mengatakan kepada Sky News pihaknya telah memblokir sejumlah tagar mengenai vaksinasi dan dihapus dari halaman pencarian, jelajahi, dan tagar.

Tagar-tagar tersebut diantaranya #vaccinescauseautism, #vaccinescauseaids, dan #vaccinesarepoison. Tak hanya itu, Instagram memperluas kebijakan untuk mengatasi tagar yang tampak tidak salah dalam kata-katanya.

Misalnya, #vaccines1234 tidak mengandung apa pun yang mengkhawatirkan dalam kata-katanya. Namun dalam sejumlah unggahan, tagar itu menyertakan kesalahan informasi bahkan palsu tentang vaksin. Dengan demikian tagar itu akan ditambahkan ke daftar blokir.

Raksasa media sosial ini telah mengonfirmasi tidak akan melarang informasi yang salah, berbeda dari disinformasi yang disebarkan oleh gerakan yang menentang vaksin. Pemerintah Inggris baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengembangkan aturan dan sanksi bagi konten daring berbahaya.

Meskipun ada panggilan untuk menghapus pesan anti-vaksinasi, Instagram telah mengklaim mereka tidak melanggar kebijakannya. Instagram hanya dapat berupaya mengurangi jumlah orang yang melihatnya.

Menurut Kepala National Health System (program layanan kesehatan masyarakat Inggris), Simon Stevens, pesan anti-vaksinasi di media sosial mungkin berkontribusi pada peningkatan kasus campak. Penolakan vaksin menjadi bom waktu kesehatan masyarakat yang serius dan terus berkembang.

"Dengan kasus campak hampir empat kali lipat di Inggris dalam satu tahun, itu sangat tidak bertanggung jawab bagi siapa pun untuk menyebarkan cerita menakut-nakuti tentang vaksin. Perusahaan media sosial harus memiliki pendekatan toleransi nol terhadap konten berbahaya ini," jelas Simon.

Badan amal UNICEF ​​telah menganalisis data yang menunjukkan lebih dari setengah juta anak di Inggris tidak divaksinasi campak selama periode delapan tahun. Data Kesehatan Masyarakat Inggris menunjukkan ada 913 kasus campak antara Januari dan Oktober 2018, naik dari 259 di seluruh 2017.

Gerakan anti-vaksinasi telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Gerakan ini disebut-sebut sebagai faktor penyebab lonjakan yang mengkhawatirkan pada kasus campak di AS, Prancis, dan Italia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA