Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Badak Kenya Terancam Bakteri Kebal Antibiotik

Jumat 14 Feb 2020 05:11 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Nora Azizah

Badak yang hidup di taman nasional di Kenya menghadapi ancaman baru (Foto: ilustrasi badak Kenya)

Badak yang hidup di taman nasional di Kenya menghadapi ancaman baru (Foto: ilustrasi badak Kenya)

Foto: Flickr
Badak yang hidup di taman nasional di Kenya menghadapi ancaman baru.

REPUBLIKA.CO.ID, KENYA -- Badak yang hidup di taman nasional di Kenya menghadapi ancaman baru. Para ilmuwan menemukan sampel bakteri yang resisten terhadap antibiotik di tubuh hewan langka tersebut.

Temuan tersebut terbit baru-baru ini di jurnal akademik New York yang berbasis di New York, EcoHealth. Tampaknya badak itu telah menjadi korban tak terduga dari penggunaan obat terlarang secara global.

Resisten terhadap mereka meningkat karena orang menggunakan obat untuk penyakit non bakteri. Ini memungkinkan bakteri pulih dan beradaptasi.

Penggunaan dan penyalahgunaan antibiotik di Kenya telah merajalela selama beberapa dekade meningkatkan tingkat bakteri yang resistan terhadap obat pada manusia, ternak dan satwa liar. Tim ilmuwan, yang termasuk mahasiswa PhD Universitas Maseno Collins Kipkorir Kebenei, menggunakan sampel tinja untuk mempelajari tingkat resistensi pada bakteri yang ditemukan di 16 badak hitam.

Mereka mengisolasi sampel E.coli dalam limbah badak dan manusia, serta mempelajari bagaimana mereka kebal terhadap delapan antibiotik yang paling umum digunakan. Yaitu Ampisilin, gentamisin, tetrasiklin, kotrimoksazol, kloramfenikol, ceftriaxone, amoksisilin/asam klavulanat dan eritromisin.

Tingkat resistensi bakteri yang ditemukan dalam badak dan yang ditemukan pada manusia sebanding dengan empat antibiotik. Bakteri pada badak lebih tahan daripada manusia.

Seperti yang dilansir dari Malay Mail, Jumat (14/2), menurut temuan para peneliti di Taman Nasional Kruger Afrika Selatan, ini menjadi masalah karena badak rentan terhadap penyakit bakteri tuberkulosis sapi. Resistensi antibiotik dapat membuat pengobatan lebih sulit.

“Jika badak sakit, mereka perlu dirawat dan jadi obat apa yang dapat digunakan pada hewan-hewan ini?” kata Kabenei.

Badak sudah sangat terancam. Menurut Yayasan Badak Internasional, hanya ada sekitar 29 ribu ekor yang hidup.

Sekitar lima persen dari mereka berada di Kenya. Tidak jelas bagaimana badak terpapar pada bakteri yang resisten terhadap obat.

Bisa saja melalui kegiatan minum di Sungai Lambwe yang mengalir melalui Taman Nasional Ruma dan membawa limbah yang mengandung bakteri resisten antibiotik.

Kemungkinan lainnya bisa melalui kontak dengan penjaga yang melindungi mereka dari pemburu liar. Seorang dosen di departemen zoologi Universitas Maseno yang juga ikut menulis penelitian ini, David M.Onyango mengatakan meskipun perhatian difokuskan pada perburuan liar, infeksi resisten antibiotik adalah ancaman baru dan berbahaya.

“Ada orang yang menjajakan antibiotik di stasiun bus. Tidak ada kebijakan dan regulasi yang tepat tentang penggunaannya,” kata Onyago.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA