Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Akankah Virus Corona Hilang Saat Musim Dingin Berakhir?

Kamis 13 Feb 2020 02:10 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Peneliti China menyebut, virus corona mungkin menghilang saat musim dingin berakhir.

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Peneliti China menyebut, virus corona mungkin menghilang saat musim dingin berakhir.

Foto: CDC via AP, File
Peneliti China menyebut, virus corona mungkin menghilang saat musim dingin berakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Wabah virus corona tipe baru diyakini akan hilang seiring dengan berakhirnya musim dingin yang kini dialami di sejumlah negara dunia. Memasuki Maret, saat musim semi datang, cuaca yang mulai menghangat dipercaya akan membuat virus yang resmi dinamai Covid-19 oleh WHO itu melemah.

Meski demikian, seorang ahli penyakit menular bernama William Schaffner mengatakan bahwa hal itu mungkin tak akan seperti itu. Ia menilai, masih terlalu dini untuk mengetahuinya dan saat ini para ilmuwan masih berupaya memahami dengan jelas virus corona jenis baru yang hingga Selasa (11/2) dilaporkan telah membuat lebih dari 43 ribu orang terinfeksi secara global, dengan 99 persen kasus berada di wilayah China daratan.

“Kami berharap musim semi akan membantu virus corona baru ini surut, namun belum terlalu jelas. Virus corona ini merupakan virus pernapasan dan yang kami tahu virus pernapasan sering musiman, tetapi tidak selalu,” ujar Schaffner, dilansir Fox News, Rabu (12/2).

Schaffner mengatakan, seperti virus influenza yang cenderung membuat flu berlangsung musiman di Amerika Serikat (AS), namun di negara lainnya penyakit ini bisa terjadi sepanjang tahun. Bahkan, menurutnya, para ilmuwan belum sepenuhnya memahami mengapa bisa demikian, meski flu telah dipelajari selama bertahun-tahun.

“Virus corona baru ditemukan pada manusia pada Desember 2019 dan masih terlalu dini untuk mengetahui dengan pasti apa dampak cuaca yang lebih hangat,” jelas Schaffner.

Setidaknya ada empat virus corona yang bersifat musiman selama ini diketahui. Namun, alasan mengapa dapat demikian masih menjadi misteri, seperti halnya banyak penyakit menular, seperti wabah sindrom pernapasan akut parah (SARS) pada 2002-2003 yang menewaskan hampir 800 jiwa pada saat itu. Wabah berakhir pada musim panas, tetapi sebuah laporan pada 2004 mengatakan tentang SARS yang terjadi secara musiman, namun tidak pula ada alasan yang jelas mengapa itu dapat terjadi.

"Pemahaman kami tentang kekuatan yang mendorong hilangnya penyakit musiman dan kambuhnya penyakit menular tetap terpisah, sehingga membatasi setiap prediksi tentang apakah, atau kapan, SARS akan kambuh," tulis para penulis laporan pada saat itu.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa sebagian besar patogen pernapasan manusia muncul kembali di musim dingin. Namun, penyakit sejenis yang terjadi di daerah tropis memperkuat pertanyaan tentang penjelasan yang hanya bertumpu pada udara dingin atau kelembapan rendah.

Sebelumnya, penasihat senior medis Pemerintah China, Zhong Nanshan, mengatakan  bahwa wabah virus Covid-19 diharapkan dapat berakhir pada musim semi yang datang, yakni dalam satu hingga dua bulan ke depan. Wabah virus corona tipe baru itu diperkirakan akan mencapai puncak pada akhir Februari di China daratan dan kemudian akan terus bergerak menurun.

“Berhipotesis pada pemodelan matematika, peristiwa baru-baru ini, dan tindakan pemerintah, wabah diperkirakan dapat berakhir pada April,” ujar Zhong.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA