Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

NASA Sebut Perubahan Iklim Ganggu Arus Laut Utama

Rabu 12 Feb 2020 13:05 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Nora Azizah

Studi NASA menyebutkan perubahan iklim dari aktivitas manusia ganggu arus laut (Foto: ilustrasi perubahan iklim)

Studi NASA menyebutkan perubahan iklim dari aktivitas manusia ganggu arus laut (Foto: ilustrasi perubahan iklim)

Foto: PxHere
Studi NASA menyebutkan perubahan iklim dari aktivitas manusia ganggu arus laut.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON DC -- Menurut sebuah studi baru dari NASA, perubahan iklim yang dihasilkan dari aktivitas manusia telah menyebabkan arus laut utama menjadi lebih bergolak. NASA juga menghabiskan banyak waktu memantau dan mempelajari Bumi dengan menggunakan data satelit belasan tahun untuk mengukur arus laut Beaufort Gyre.

Mereka menemukan pergerakan lebih cepat sebagai hasil dari pencairan es laut yang terus melaju. Sederhananya, Beaufort Gyre adalah arus laut melingkar yang berputar searah jarum jam karena efek angin.

Arus ini menjaga daerah kutub seimbang dengan mengumpulkan air segar dari hal-hal, seperti mencairnya gletser dan menyimpannya di dekat permukaan laut. Sebagai akibatnya, air tawar memperlambat laju pencairan es laut dan membantu menjaga iklim planet tetap teratur .

Ilmuwan NASA menemukan arus ini telah mengumpulkan sejumlah besar air tawar sejak 1990-an , sebagai konsekuensi dari peningkatan pencairan es laut. Saat es laut meleleh, arus terpapar ke lebih banyak angin yang menyebabkannya bergerak lebih cepat dan menarik lebih banyak air tawar ke dalam arusnya.

Air tawar mengalami kesulitan keluar dari Samudra Arktik karena angin telah membuat arus macet berputar ke arah yang sama selama lebih dari dua dekade. NASA mengatakan ini tidak biasanya angin mengubah arah setiap beberapa tahun, menyebabkan arus berbalik arah dan karena itu melepaskan air tawar yang telah menumpuk.

"Jika Beaufort Gyre melepaskan kelebihan air tawar ke Samudra Atlantik, itu berpotensi memperlambat peredarannya dan itu akan berdampak luas pada iklim, terutama di Eropa Barat," ujar penulis uatama studi ini, Tom Armitage, seperti yang dilansir Slash Gear, Rabu (12/2).

Efek pada arus dapat membaawa dampak ke satwa liar dan rantai makanan di Kutub Utara serta kehidupan laut. Perubahan arah angin dapat menyebabkan air tawar dalam jumlah besar dibuang ke Samudra Atlantik.

Sebagai hasilnya, akan memperlambat sirkulasi pembalikan lembaran Atlantik. Konsekuensi ini berdampak ke komunitas yang bergantung pada kehidupan laut dan iklim Eropa Barat.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA