Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Peneliti Ungkap Keruntuhan Masyarakat di Pulau Paskah

Jumat 07 Feb 2020 16:25 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Patung-patung ikonik di Pulau Paskah.

Patung-patung ikonik di Pulau Paskah.

Foto: reuters
Para pelaut asal Polinesia diyakini menjadi yang pertama menempati pulau Paskah..

REPUBLIKA.CO.ID, EUGENE — Ilmuwan menemukan hal baru dari penyebab keruntuhan prasejarah di Pulau Paskah, Chile. Ilmuwan menyebut keruntuhan prasejarah monumen-bangunan masyarakat di Pulau Paskah tidak terjadi seperti yang diperkirakan.

“Pemikiran umum adalah bahwa masyarakat yang dilihat orang Eropa ketika mereka pertama kali muncul adalah satu yang telah runtuh,” ujar Robert J. DiNapoli, penimpin analisis dari Departemen Antropolgi di Universitas Oregon, dilansir Eurekalert, Jumat (7/2).

Menurut DiNapoli, kesimpulan peneliti adalah pembangunan monumen dan investasi masih merupakan bagian penting dari kehidupan mereka ketika orang-orang mulai datang. Pulau Paskah terletak di Chili, sekitar 3.000 kilometer (1.864 mil) dari Amerika Selatan dan 2.000 kilometer (1.242 mil) dari pulau berpenghuni lainnya.

Pulau yang juga dikenal dengan sebutan Rapa Nui itu diyakini telah ada sejak abad ke-13. Para pelaut asal Polinesia diyakini menjadi yang pertama menempati pulau ini.

Dari sana, mereka mulai membangun platform batu besar yang ditumpuk dengan patung megalitik dan topi batu besar berbentuk silindris yang digunakan untuk ritual budaya dan keagamaan. Termasuk diantaranya adalah dalam ritual pemakaman dan kremasi.

Menurut laporan, konstruksi monumen yang ada di pulau itu terhenti sekitar pada 1600, setelah terjadinya keruntuhan sosial yang besar. Dalam penelitian baru yang dirilis dalam Journal of Archaeological Science, tim DiNapoli menyajikan kronologi untuk konstruksi platform patung dengan mengintegrasikan tanggal radiokarbon yang ada dengan urutan perakitan yang diperlukan untuk membangun monumen.

Selain itu, terdapat catatan tertulis dari Belanda, Spanyol dan pelaut Inggris yang mulai berdatangan pada 1722. Secara bersamaan, DiNapoli mengatakan integrasi data, menggunakan statistik Bayesian, membawa kejelasan penanggalan radiokarbon di berbagai situs.

Peneliti menyimpulkan, orang-orang Rapa Nui terus membangun, merawat, dan menggunakan monumen untuk setidaknya selama 150 tahun setelah era 1600. Studi dilakukan sebagai bagian dari disertasi DiNapoli, yang difokuskan pada proses membangun arsitektur monumen.

Melihat 11 lokasi, para peneliti memeriksa urutan konstruksi yang diperlukan, mulai dengan membangun platform pusat dan kemudian menambahkan berbagai struktur, serta patung. Hal ini membantu memahami perbedaan tanggal radiokarbon yang ditemukan di berbagai lokasi penggalian.

Menurut tim peneliti, konstruksi monumen dimulai segera setelah permukiman Polinesia awal dan meningkat dengan cepat, antara awal abad ke-14 dan pertengahan-15. Tingkat konstruksi stabil dan terus berlanjut melampaui keruntuhan yang dihipotesiskan dan kedatangan orang-orang Eropa.

Ketika orang-orang Belanda tiba pada 1722, pengamatan tertulis melaporkan bahwa monumen di Rapa Nui digunakan untuk ritual dan tidak menunjukkan bukti keruntuhan masyarakat. Hal yang sama dilaporkan pada 1770, ketika pelaut Spanyol mendarat di pulau itu.

"Masa tinggal mereka singkat dan uraiannya singkat dan terbatas, tapi mereka memberikan informasi yang berguna untuk membantu kita berpikir tentang waktu membangun, serta menggunakan struktur ini sebagai bagian dari kehidupan budaya dan agama mereka,” jelas DiNapoli.

Namun, ketika seorang penjelajah Inggris, James Cook tiba empat tahun kemudian, pada 1774, ia dan krunya menggambarkan sebuah pulau dalam krisis, dengan monumen yang terbalik. Menurut DiNapoli, cara tim peneliti menginterpretasikan hasil studi dan urutan catatan sejarah ini adalah bahwa gagasan runtuhnya konstruksi monumen pra-Eropa tidak lagi didukung.

"Begitu orang Eropa tiba di pulau itu, ada banyak peristiwa tragis yang didokumentasikan karena penyakit, pembunuhan, perampasan budak, dan konflik lainnya," ujar Carl Lipo, seorang antropolog dari Binghamton University di New York.

Lipo mengatakan peristiwa ini sepenuhnya ekstrinsik bagi penduduk di Pulau Paskah. Namun, orang-orang Rapa Nui mengikuti praktik yang memberi mereka stabilitas dan kesuksesan besar selama ratusan tahun, dengan melanjutkan tradisi mereka dalam menghadapi peluang yang luar biasa.

"Sejauh mana warisan budaya mereka diwariskan masih ada sampai sekarang melalui bahasa, seni, dan budaya yang cukup menonjol dan mengesankan. Saya pikir tingkat ketahanan ini telah diabaikan karena narasi yang runtuh dan pantas mendapatkan pengakuan,” jelas Lipo.

Studi yang dilakukan, serta pendekatan dalam penelitian yang didanai oleh National Science Foundation ini mungkin berguna untuk menguji hipotesis keruntuhan masyarakat di wilayah lainnya di seluruh dunia. Selama ini, perdebatan serupa tentang waktu kerap terjadi.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA