Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Ilmuwan Australia Berhasil Duplikat Virus Korona Baru

Rabu 29 Jan 2020 10:31 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Virus Corona

Ilustrasi Virus Corona

Foto: MgIt03
Duplikat virus memungkinkan ilmuwan untuk memproduksi vaksin corona.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ilmuwan di Australia telah berhasil menduplikat corona">virus corona baru yang kini mewabah di China dan menyebar ke beberapa negara termasuk Australia. Para ilmuwan menilai hal ini sebagai terobosan signifikan.

Hasil penemuan ini akan dibagikan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan harapan dapat membantu upaya diagnosa dan pengobatan bagi pasien terinfeksi virus 2019-nCoV. Sebelumnya, para ilmuwan di China juga telah mencipta ulang virus dan berbagi urutan genomnya.

Para peneliti di laboratorium spesialis di Melbourne, Australia, mengatakan mereka dapat menciptakan duplikat virus dari pasien yang terinfeksi. Sampel dikirim kepada mereka Jumat lalu.

"Kami telah memikirkan rencana ini sejak beberapa tahun lalu. Karena itulah kami bisa bergerak cepat kala virus korona baru atau 2019n-CoV ini mewabah," kata Dr Mike Catton dari Institut Peter Doherty dilansir BBC, Rabu (29/1).

Dr Catton mengatakan hasil duplikat virus itu bisa digunakan sebagai media control dan bisa dimanfaatkan untuk diagnosa dini bagi seseorang yang belum menunjukkan gejala.

"Tes antibodi akan memungkinkan kita untuk menguji secara retrospektif pasien yang dicurigai sehingga kita dapat mengumpulkan gambaran yang lebih akurat tentang seberapa luas virus itu dan seberapa besar risiko kematian akibat virus itu," kata Dr Catton.

"Hasil duplikat virus ini juga akan membantu dalam penilaian efektivitas vaksin percobaan,” tambah dia.

Sebelumnya diketahui, Komisi Kesehatan Nasional Cina mengatakan jumlah kematian akibat wabah virus korona baru di negara itu telah meningkat menjadi 132 pada Selasa, dengan total 5.974 kasus yang dikonfirmasi. Sekitar 47 kasus juga dikonfirmasi di 15 negara lain, termasuk di Thailand, Prancis, AS, dan Australia. Namun hingga kini tidak ada laporan pasien meninggal di luar China.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA