Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

NASA Diarahkan untuk Fokus untuk Pendaratan di Mars

Senin 27 Jan 2020 17:01 WIB

Rep: Eric Iskandar Z/ Red: Dwi Murdaningsih

Foto baru Planet Mars menampilkan beberapa warna lain.

Foto baru Planet Mars menampilkan beberapa warna lain.

Foto: nasa/univ arizona
Awalnya, NASA berencana untuk melakukan pendaratan di Bulan pada 2028.

REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA—Awalnya, Badan Antariksa AS (NASA) memiliki target untuk mendarat di Bulan pada 2028. Namun, rupanya rencana itu mengalami perubahan setelah parlemen menggodok sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang berkaitan dengan program pesawat luar angkasa.

Baca Juga

Dilansir dari Space Flight Now pada Senin (27/1), dapat disimpulkan, isi dari RUU itu menolak soal rencana pendaratan di Bulan. Lewat RUU itu, parlemen Amerika Serikat (AS) cenderung lebih mendukung agar NASA melakukan mars">pendaratan di Mars.

Jika RUU itu disahkan jadi undang-undang, maka NASA Authorization Act of 2020 akan lebih menekankan program kerja yang menargetkan untuk pendaratan di Mars pada 2033. RUU itu pun sekaligus menegaskan bahwa sejumlah rencana jangka panjang di Bulan jug harus diurungkan. Sejumlah program kerja yang pernah direncanakan diantaranya adalah pembangunan landasan permanen di Bulan dan penambangan es untuk bahan bakar roket dan bahan baku proses konversi oksigen.

RUU yang didukung oleh Partai Demokrat dan Partai Republik ini dipublikasikan oleh House Committee on Science, Space and Technology pada Jumat pekan lalu. Setelah nantinya RUU ini disahkan oleh komite, maka parlemen akan melakukan pemungutan suara untuk kemudian disahkan jadi undang-undang.

Ketua Subkomite House Committee on Science, Space and Technology Kendra Horn mengatakan, RUU ini merupakan hasil dengar pendapat, kesaksian dan upaya untuk menghasilkan program terbaik.

“Saya bangga dengan kerja sama ini. Orang AS harus jadi manusia pertama yang menginjakan kaki di Mars. RUU ini adalah hal yang mendukung cita-cita itu,” kata Kendra.

Di satu sisi, meski parlemen satu suara soal RUU ini, nampaknya hal itu tak sejalan dengan harapan dari pelaku industri komersial kedirgantaraan. The Commercial Spaceflight Federation menilai, RUU itu tidak sejalan dengan program eksplorasi yang berkelanjutan.

Pasalnya, RUU itu dinilai justru membuat NASA tidak berkembang karena mengesampingkan partisipasi pelaku industri. Padahal, gedung putih dan NASA sempat sepakat bahwa setiap program yang dilakukan merupakan program kolaborasi yang melibatkan pelaku industri demi mewujudkan sebuah institusi luar angkasa yang terjangkau dan aman.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA