Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Ilmuwan Temukan Virus Purba dalam Es 15 Ribu Tahun

Jumat 24 Jan 2020 10:54 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Virus

Ilustrasi Virus

Foto: pixabay
Ilmuwan mengguanakan sampel es yang tidak terkontaminasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Ilmuwan menemukan sejumlah virus di dalam es berusia 15 ribu tahun. Meneliti es berumur ribuan tahun di bagian terpencil dunia untuk menemukan sejumlah patogen yang belum pernah diketahui oleh sains pada awalnya menjadi sebuah hal yang terasa tidak nyata.

Baca Juga

Namun, pada kenyataannya, hal itu benar-benar dilakukan. Dilansir Ifl Science, pada 2015 tim peneliti internasional melakukan perjalanan ke tutup es Guliya di Dataran Tinggi Tibet barat laut untuk mempelajari virus purba.

Setelah melakukan pengeboran sedalam 50 meter (164 kaki) di es berusia 15.000 tahun, para peneliti mengambil dua sampel inti untuk mempelajari mikroba di dalamnya. Dalam sebuah malah terbaru yang diterbitikan di bioXiv, para peneliti yang mempelajari jarum-jarum dingin ini mengungkap lebih dari 30 kelompok virus ditemukan, 28 di antaranya merupakan jenis baru di bidang sains.

Bakteri yang diteliti ditemukan dari es di awal abad ke-20 dan lepas pada 1980-an dan 1990-an, ketika inti es Bostok ditemukan dari Antartika Timur di kedalaman 3.623 meter (11.886 kaki). Mempelajari mikroba, bakteri, dan virus yang membeku jauh di dalam es purba memberi pengetahuan tentang lingkungan dan kondisi iklim di masa lalu.

Meski demikian, sulit menjaga sampel dalam penelitian ini tetap murni dan  tidak terkontaminasi oleh apapun di zaman modern. Kedua inti es yang diteliti dikumpulkan masing-masing pada tahun 1992 dan 2015, dan keduanya tidak bebas kontaminasi.

Sebagai gantinya, untuk mengakses inti bagian dalam, mereka harus menggunakan gergaji yang disterilkan dan ruangan dengan suhu -5 derajat celcius atau 23 derajat fahrenheit. Dengan demikian, peneliti dapat mencapai lapisan untuk mencapai es yang tidak tercemar.

Tim peneliti menggunakan kesempatan itu untuk menetapkan prosedur pengambilan sampel mikroba dan virus ultra-bersih untuk es gletser. Ini menyediakan data dasar bagi ilmuwan lain yang mempelajari inti es.  Dengan menggunakan teknik mikrobiologi, pengujian sampel ini dilakukan dan ditemukan 33 kelompok virus di kedua inti es.

"Mikroba berbeda secara signifikan di dua inti es. Ini mungkin mewakili kondisi iklim yang sangat berbeda pada saat pengendapan,” tulis para peneliti.

Investigasi kelompok-kelompok virus misterius sangat penting karena perubahan iklim mengancam jenis pengambilan sampel ini di dua sisi. Inti es membantu, tidak hanya mendokumentasikan bakteri purba, tetapi juga memahami iklim yang memungkinkan mikroba tertentu untuk berkembang pada saat itu.

Melelehnya es gletser yang tersebar luas dan terdokumentasi dengan baik mengartikan bahwa sampel-sampel murni ini tidak hanya ada di masa depan, tetapi juga dapat mencairkan patogen-patogen yang telah lama tidak aktif sehingga orang-orang di masa ini tidak memiliki ketahanan terhadapnya. Peneliti mencatat, es yang mencair dapat menyebabkan hilangnya arsip mikroba dan virus yang bisa menjadi diagnostik dan informatif iklim bumi di masa lalu.

"Namun, dalam skenario terburuk, pencairan es ini dapat melepaskan patogen ke lingkungan,” tulis para peneliti.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA