Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Kawah Tertua di Bumi Simpan Rahasia Zaman Es

Rabu 22 Jan 2020 10:01 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Bumi ilustrasi.

Bumi ilustrasi.

Foto: afp
Kawah tertua di dunia terbentuk akibat benturan asteroid lebih dari 2 miliar tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ilmuwan telah mengidentifikasi kawah tertua di bumi yang dikenal sebagai Kawah Yarrabubba. Kawah ini terbentuk akibat benturan asteroid atau komet lebih dari 2 miliar tahun lalu. Ilmuwan meyakini kawah tertua di bumi ini memiliki jawaban soal bagaimana bumi bisa kembali bangkit dari zaman es.

Kawah Yarrabubba terletak di Australia Barat dan memiliki lebar sepanjang 70 kilometer. Studi terbaru membuktikan bahwa Kawah Yarrabubba memiliki usia yang lebih tua dibandingkan Kawah Vredefort Dome di Afrika Selatan yang sebelumnya diyakini sebagai kawah tertua di dunia.

Menurut studi, Kawah Yarrabubba diperkirakan berusia sekitar 2,229 miliar tahun, dengan error range lebih atau kurang 5 juta tahun. Kawah ini memiliki usia setengah dari perkiraan usia bumi yaitu 4,54 miliar tahun dengan error range 50 juta tahun.

Yang menarik, waktu terbentuknya Kawah Yarrabubba ini berdekatan dengan masa di mana bumi kembali bangkit dari zaman es. Zaman es merupakan zaman ketika permukaan bumi dilapisi oleh es. Ilmuwan menilai dua kejadian yang berdekatan ini bukan sekedar kebetulan belaka.

"Masa benturan Yarrabubba sesuai dengan akhir dari rangkaian kejadian glasiasi (proses pembekuan di bumi pada zaman es)," ucap salah satu peneliti Nicholas Timms dari Shool of Earth and Planetary Sciences di Curtin University, seperti dilansir Space.

Setelah tumbukan yang menciptakan Kawah Yarrabubba terjadi, Timms mengatakan deposit gletser tidak tampak di area tumbukan tersebut selama 400 tahun. Oleh karena itu, ilmuwan meyakini tumbukan benda langit yang membentuk Kawah Yarrabubba ini turut memengaruhi iklim global kala itu.

Tim ilmuan juga membuat sebuah simulasi komputer untuk melihat apakah benturan benda langit yang menciptakan kawah Yarrabubba dan akhir dari zaman es saling berkaitan. Simulasi ini menunjukkan bahwa sekitar 90-200 triliun kilogram air menguap menguap dan gas rumah kaca yang kuat menghembus ke atmosfer teratas bumi sesaat setelah benturan Yarrabubba terjadi.

"(Fenomena ini) mungkin memiliki dampak secara global yang signifikan," kata tim ilmuwan dalam studi mereka.

Temuan baru ini tentu menarik mengingat kawah kuno sangat sulit untuk ditemukan di bumi. Banyak kawah kuno yang terkubur ketika lempeng atau dataran bumi saling bergerak dan mengubur satu sama lain. Tak sedikit pula kawah kuno yang hilang akibat terpaan angin dan air dalam kurun waktu ribuan tahun.

"Yarrabubba juga tidak lagi terlihat seperti sebuah kawah," kata ketua peneliti Timmons Erickson dari Johnson Space Center milik NASA dan dari School Earth and Planetary Sciences di Curtin University.

Kawah Yarrabubba pertama kali ditemukan oleh tim ilmuwan lain yang dipimpin oleh profesor geologi dari University of California Santa Barbara Francis Macdonald. Macdonald dan tim menemukan kawah Yarrabubba pada 2003 lalu karena adanya anomali magnetik di area tersbut dan keberadaan bebatuan yang tampak mengalami benturan.

Saat itu, jelas terlihat bahwa Kawah Yarrabubba terbentuk sudah sangat lama. Namun saat itu belum diketahui berapa perkiraan usia dari Kawah Yarrabubba.

Oleh karena itu, dalam studi terbaru Erickson dan tim berupaya untuk menganalisis bebatuan dari Kawah Yarrabubba. Melalui studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini, Erickson dan tim menganalisis butiran-butiran monazite dan zicron yang terkristallisasi akibat benturan.

Erickson dan tim juga mengukur jumlah uranium, thorium dan timah dari sampel bebatuan yang mereka teliti. Monazite dan zicron diketahui memiliki uranium, akan tetapi tidak memiliki kandungan timah ketika terkristalisasi.

Baca Juga

Sedangkan uranium dan thorium bisa mengalami kerusakan secara radioaktif menjadi timah dalam rasio tertentu. Oleh karena itu, analisis dan pengukuran yang dilakukan oleh Erickson dan tim bisa memprediksi kapan rekristalisasi terjadi.

Menemukan dan memperkirakan usia kawah kuno dapat membantu manusia menjawab beragam pertanyaan mengenai kejadian di masa lalu. Erickson juga menilai sangat mungkin bila di masa mendatang ilmuwan menemukan kawah-kawah kuno lain di rentang usia 2,5-3,5 miliar tahun.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA