Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Gelombang Panas Pasifik Sebabkan Jutaan Burung Laut Mati

Selasa 21 Jan 2020 10:49 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Lima tahun yang lalu, puluhan ribu burung laut terdampar di pantai Pasifik.

Lima tahun yang lalu, puluhan ribu burung laut terdampar di pantai Pasifik.

Foto: live science
Air yang hangat menjadi masalah bagi makhluk hidup baik di darat maupun di air.

REPUBLIKA.CO.ID, ALASKA — Lima tahun yang lalu, puluhan ribu burung laut terdampar di pantai Pasifik. Kini, para ilmuwan tahu penyebab kematian hewan-hewan tersebut.

Murre (Uria aalge) adalah burung laut hitam dan putih yang panjangnya mencapai sekitar satu kaki (0,3 meter). Burung ini dapat menyelam ratusan meter ke dalam air untuk mencari mangsa.

Burung laut ini memakan ikan kecil seperti sarden, herring, dan ikan teri. Mereka perlu mengonsumsi sekitar setengah dari berat badan mereka setiap hari untuk bertahan hidup.

Tetapi beberapa tahun lalu, keadaannya berubah. Pada 2013, permukaan air mulai memanas di lepas pantai Pasifik. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai blob.

Gelombang panas lautan yang pernah dicatat paling kuat berlanjut pada 2015. Perairan semakin hangat ketika El Nino tiba pada 2015 dan 2016.

Air yang hangat menjadi masalah bagi makhluk hidup baik di darat maupun di air. Sejumlah spesies mengalami kematian massal yang serupa, termasuk singa laut, paus balin dan auklet Cassin. Pernyataan mengungkapkan tidak ada murre yang mati saat itu.

Antara 2015 dan 2016, 62 ribu murre mati atau sekarat melanda pesisir Pasifik dari California ke Alaska. “Sejauh ini, tidak ada bukti selain kelaparan yang ditemukan untuk menjelaskan kematian massal ini,” tulis para peneliti dalam penelitian tersebut, seperti yang dilansir dari Live Science, Selasa (21/1).

Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa hanya sebagian kecil dari burung laut mati yang terdampar di pantai. Mereka menulis, itu berarti jumlah murre yang mati kemungkinan mencapai sekitar satu juta.

Studi sebelumnya telah menemukan blob mengurangi jumlah fitoplankton di dalam air dan meningkatkan metabolisme makhluk berdarah dingin seperti zooplankton, ikan hijau kecil dan ikan predator yang lebih besar seperti salmon.

Itu berarti ikan predator, yang bersaing untuk makanan yang sama dengan murre, perlu makan lebih banyak ikan kecil daripada biasaanya untuk bertahan hidup. Blob itu sekarang hilang, tetapi para ilmuwan baru-baru ini mengidentifikasi gelombang panas laut lain yang terbentuk di lepas pantai Washington dan naik ke Teluk Alaska.

“Dunia laut yang lebih hangat adalah lingkungan yang sangat berbeda dan (juga) ekosistem pantai yang sangat berbeda untuk banyak spesies laut. Burung laut sebagai anggota sistem yang terlihat adalah pemimpin dari perubahan tersebut,” kata seorang profesor Fakultas Ilmu Perairan dan Perikanan Universitas Washington, Julia Parrish.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA