Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Suku Asli Brazil Tentang Langkah Perusakan Hutan Amazon

Kamis 16 Jan 2020 14:36 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Ketua suku asli di desa Krimej, Kadjyre Kayapo dari suku Kayapo berfoto dengan latar belakang hutan yang dibuka oleh penebang hutan ilegal di perbatasan tanah pribumi Menkragnotire dan Biological Reserve Serra do Cachimbo, bagian dari hutan Amazon di Altamira, negara bagian Para, Brasil, Sabtu (31/8).

Ketua suku asli di desa Krimej, Kadjyre Kayapo dari suku Kayapo berfoto dengan latar belakang hutan yang dibuka oleh penebang hutan ilegal di perbatasan tanah pribumi Menkragnotire dan Biological Reserve Serra do Cachimbo, bagian dari hutan Amazon di Altamira, negara bagian Para, Brasil, Sabtu (31/8).

Foto: AP Photo/Leo Correa
Presiden Brazil ingin membuka kegiatan tambang komersial di Amazon.

REPUBLIKA.CO.ID, TAMAN NASIONAL XINGU -- Masyarakat suku asli Brazil dan para penyadap pohon karet bergabung untuk menentang langkah yang diambil Presiden Brazil Jair Bolsonaro yang dianggap merusak hutan Amazon. Bolsonaro ingin membuka kegiatan tambang komersial dan pertanian demi mengembangkan Amazon serta mengangkat kehidupan masyarakatnya dari kemiskinan.

Baca Juga

Sekitar 450 orang anggota dari 47 suku asli Brazil menggelar pertemuan hari kedua pada Rabu (15/1). Mereka mendiskusikan cara melawan langkah Bolsonaro yang melemahkan lembaga publik yang semestinya melindungi lingkungan dan hak-hak agraria masyarakat asli. Bolsonaro sendiri menyebut bahwa masyarakat pribumi sudah terlalu banyak memiliki lahan.

Kepala suku Kayapo, Raoni Metuktire meminta Kongres Brazil untuk menghalangi kebijakan presiden. "Kami di sini untuk mempertahankan tanah kami dan memberitahu dia (Bolsonaro) agar berhenti berbicara hal buruk tentang kami," ujar Raoni.

Raoni adalah sosok yang menjadi rujukan global atas kampanye lingkungan yang dilakukannya tahun 1980 bersama musisi Sting. Raoni secara tegas menyatakan bahwa ia tidak akan pernah menerima kegiatan tambang dilakukan di tanah leluhurnya.

Salah satu yang hadir dalam pertemuan itu adalah Angela Mendes. Dia merupakan  putri seorang penyadap pohon karet yang juga pemimpin serikat dagang serta aktivis lingkungan, Chico Mendes. Chico Mendes tewas dibunuh oleh pengusaha peternakan pada 1988 karena usahanya melindungi hutan hujan Brazil.

"Bersatu kami bisa melawan. Mereka punya kuasa pemerintahan, namun kami punya kekuatan air, bunga, juga tanah leluhur," ujar Angela dalam konferensi pers.

Angela mengingatkan keberadaan masyarakat non-pribumi yang hidup dari usaha ekstraktif dengan menyadap karet dari alam dan menjual buah-buahan dari hutan menjadi terancam dengan adanya penggundulan hutan.  Angela membentuk aliansi bersama dengan Sonia Guajajara, kepala organisasi payung bernama APIB yang merupakan organisasi terbesar dalam urusan suku adat.

"Ini adalah momen sangat serius dalam sejarah kami. Ini tampak seperti skenario perang," kata Sonia.

Sonia menuduh Bolsonaro telah melayani kepentingan sektor pertanian dan peternakan Brazil untuk merangsek ke wilayah Amazon. Dia menegaskan kekerasan terhadap 850.000 orang pribumi Brazil atas konflik agraria dengan para peternak, penambang ilegal, dan pembalak liar mengancam masa depan suku adat.

Sementara itu, Bolsonaro telah berjanji untuk melibatkan masyarakat pribumi dalam ekonomi dan masyarakat modern Brazil. Namun Sonia menyebutnya sebagai suatu asimilasi yang setara dengan matinya budaya dan bahasa adat mereka.

Badan Urusan Masyarakat Pribumi Brazil, Funai, yang saat ini dipimpin oleh anggota kepolisian yang ditugaskan oleh Bolsonaro, menyebut bahwa pertemuan di Xingu adalah "acara privat" yang tidak bisa didukung karena tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA