Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Observatorium Balon Kumpulkan Data Sinar Kosmik Tata Surya

Rabu 15 Jan 2020 17:19 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Dwi Murdaningsih

SuperTIGER 2 mencari data sinar kosmik.

SuperTIGER 2 mencari data sinar kosmik.

Foto: universetoday
Observatorium balon SUperTIGER-2 mengelilingi antartika mencari data sinar kosmik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Observatorium sinar kosmik berbasis balon melakukan perjalanan kedua keliling Antartika. Observatorium balon ini dikenal sebagai Super Trans-Iron Galactic Element Record (SuperTIGER).

Baca Juga

SuperTIGER adalah upaya kolaboratif yang dirancang untuk mempelajari sinar kosmik (proton berenergi tinggi dan inti atom) yang berasal dari luar Tata Surya.

Dilansir di Universetoday.com pada Rabu (15/1), program Super TIGER adalah upaya kolaboratif antara Universitas Washington di St. Louis, Universitas Minnesota, Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard (GSFC), dan Jet Propulsion Laboratory di California Institute of Technology (Caltech). Instrumen kelahiran balon itu dirancang untuk mempelajari jenis langka sinar kosmik yang terdiri dari inti atom unsur-unsur berat.

Tujuan utamanya adalah mempelajari di mana dan bagaimana sinar itu dapat mencapai kecepatan yang sedikit berbeda dari kecepatan cahaya, serta menguji model yang muncul di mana sinar kosmik diperkirakan berasal dari kelompok longgar yang mengandung bintang muda dan masif.

Asisten profesor di Universitas Washington, Brian Rauch mengatakan kunci kesuksesan adalah waktu. Artinya, signifikansi pengamatan peneliti meningkat dengan jumlah peristiwa yang diamati secara linier dengan waktu.

Dia mengatakan peneliti hanya ingin memiliki penerbangan selama mungkin untuk memaksimalkan statistik data yang dikumpulkan. “Satu hari data adalah peningkatan kecil dari kemajuan, dan kita hanya perlu menundukkan kepala (melihatnya),” kata Rauch.

Sinar kosmik adalah partikel energetik yang berasal dari Matahari, bintang-bintang lain di galaksi, dan galaksi lain sekaligus. Jenis yang paling umum membentuk sekitar 90 persen dari semua sinar yang terdeteksi para ilmuwan, terdiri dari proton atau inti hidrogen. Sedangkan inti helium dan elektron menempati urutan kedua dan ketiga yang jauh (masing-masing menyumbang 8 persen dan 1 persen).

Dengan SuperTIGER, tim peneliti mencari jenis paling langka, inti sinar kosmik “ultra-berat” yang lebih berat daripada besi, seperti kobalt hingga barium. Unsur-unsur itu terbentuk di inti bintang-bintang masif yang kemudian tersebar ke ruang angkasa, ketika bintang-bintang meledak atau mengalami supernova.

Ketua tim peneliti di Goddard Space Flight Center NASA, John Mitchell menjelaskan unsur berat, seperti emas dalam perhiasan diproduksi melalui proses khusus dalam bintang. SuperTIGER bertujuan membantu tim peneliti memahami bagaimana dan di mana itu terjadi.

Dengan terbang ke ketinggian 40 ribu meter (130 ribu kaki) di atas permukaan laut, SuperTIGER dan balon ilmiah serupa dapat melayang di atas 99,5 persen atmosfer.

Sempat tertunda

Penerbangan SuperTIGER-2 dimulai pada 16 Desember 2019 dini hari. Pada 2012, SuperTIGER melakukan pengamatan ketinggian Sinar Kosmik Galaksi (GCRs). SuperTIGER mencetak rekor baru, setelah menyelesaikan penerbangan 55 hari di Antartika pada Desember 2012 hingga Januari 2013.

Penerbangan SuperTIGER-2 sempat terunda akibat faktor cuaca. Selain itu, tim misi harus berurusan dengan beberapa gangguan teknis yang meliputi masalah dengan catu daya dan kegagalan komputer yang menghilangkan salah satu modul detektor di awal penerbangan. Misi kedua tidak mencoba untuk membuat rekor baru dan karena masalah teknis yang dialami tim.

Mereka mengantisipasi bahwa SuperTIGER-2 akan mengumpulkan sekitar 40 persen dari statistik yang dicapai dengan penerbangan pertama. Dengan revolusi kedua di seluruh benua sekarang selesai, tim menunggu cuaca untuk menentukan kapan misi akan berakhir.

“Cara angin stratosfer beredar musim ini, penerbangan kami akan dihentikan ketika balon datang ke lokasi yang sesuai pada akhir revolusi kedua di seluruh benua,” kata Rauch.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA