Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Krisis Iklim Buat Australia Lebih Renfan Alami Karhutla

Selasa 14 Jan 2020 12:42 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Dwi Murdaningsih

Seekor kanguru tampak di semak di kawasan Canberra, Australia, yang diselimuti kabut asap kebakaran.

Seekor kanguru tampak di semak di kawasan Canberra, Australia, yang diselimuti kabut asap kebakaran.

Foto: AAP Image/Lukas Coch via REUTERS
Kebakaran Hutan di Australia berpotensi terulang akibat perubahan iklim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ilmuwan memprediksi, kebakaran hutan yang melanda Australia bisa terulang kembali bahkan dengan skala yang lebih luas, jika emisi gas rumah kaca dan pemanasan global tidak bisa ditekan. Sebuah tinjauan terhadap 57 makalah ilmiah yang diterbitkan sejak 2013 menyebutkan bahwa krisis iklim menyebabkan Australia lebih rentan terhadap kebakaran hutan.

Baca Juga

“Kebakaran hutan telah terjadi saat ini dan bencana itu akan terus ‘menghantui,” kata kaichard Betts, Kepala Riset Dampak Iklim di Met Office Hadley Centre Inggris, dilansir Reuters, Selasa (14/1).

Tinjauan tersebut menemukan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan pemanasan global, kelembaban rendah, curah hujan rendah, dan angin kencang. Efeknya tidak hanya terjadi di Australia, tetapi dari Amerika Serikat bagian barat dan Kanada, hingga Eropa selatan, Skandinavia, Amazon, dan Siberia.

Secara global, pemanasan juga telah memengaruhi 25 persen permukaan vegetasi di Bumi. Vegetasi merupakan istilah keseluruhan komunitas tetumbuhan di suatu tempat tertentu, mencakup perpadua komunal dari jenis-jenis flora penyusunnya maupun lahan yang dibentuknya. Pemanasan global menyebabkan sekitar 20 persen peningkatan rata-rata kebakaran.

Betts mengatakan, Australia sangat rentan terhadap kebakaran karena wilayah daratannya telah memanas lebih dari kenaikan suhu global rata-rata sekitar 1 derajat Celcius. Organisasi Meteorologi Dunia mengatakan, kenaikan suhu global bisa meningkat hingga 3 sampai 5 celsius pada abad ini, lebih dari tiga kali batas yang disepakati dalam Perjanjian Iklim Paris 2015.

"Kondisi suhu di Australia sangat ekstrem. Ini seperti yang kami sebutkan bahwa bisa terjadi peningkatan pemanasan global sekitar 3 derajat di dunia. Inilah pengertian sesungguhnya dari perubahan iklim,” kata Betts.

Tinjauan ini dilakukan dengan menggunakan https://sciencebrief.org, sebuah platform penelitian online baru yang didirikan oleh University of East Anglia dan Pusat Penelitian Perubahan Iklim Tyndall di Inggris.

Setidaknya 28 orang telah tewas dalam kebakaran di Australia, 2.000 rumah habis dilalap api dan meratakan 11,2 juta, hampir setengah dari wilayah Inggris. Setelah dikritik berbagai pihak, akhirnya pada Ahad lalu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengusulkan penyelidikan besar terkait dengan bencana kebakaran, termasuk dampak dari perubahan iklim.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA