Senin, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 Januari 2020

Senin, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 Januari 2020

Ilmuwan Temukan Potongan Meteorit Lebih Tua dari Tata Surya

Selasa 14 Jan 2020 10:35 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Dwi Murdaningsih

Meteorit. Ilustrasi.

Meteorit. Ilustrasi.

Potongan meteorit itu terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Para ilmuwan menemukan butiran mineral kecil yang lebih tua dari matahari dan tata surya. Butiran itu terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

Baca Juga

Beberapa butir "presolar" yang ditemukan itu berusia antara 5 miliar dan 7 miliar tahun. "Usia itu menjadikannya benda tertua yang diketahui di Bumi," tulis laporan Discover Magazine, dukutip Selasa (13/01).

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 13 Januari di Prosiding National Academy of Sciences ini, tim peneliti menganalisis 50 butir presolar yang mengandung mineral yang disebut silikon karbida.

Tim dipimpin oleh kosmokimiawan Philipp Heck dari Field Museum di Chicago. Sampel berasal dari meteorit Murchison yang terkenal, yang jatuh ke Bumi di Australia pada tahun 1969.

"Saya masih bersemangat tentang mengekstraksi mineral, dan mempelajari sesuatu tentang sejarah galaksi kita," kata Heck.

Butiran persolar awalnya terbentuk di ruang antar bintang yang terkondensasi menjadi debu. Para peneliti yang mengidentifikasi butir itu berpikir jika utu kemungkinan diciptakan setelah ledakan dalam pembentukan bintang yang dialami Bima Sakti sekitar 7 miliar tahun yang lalu. 

Temuan baru ini menunjukkan bahwa para peneliti dapat mempelajari meteorit untuk lebih memahami sejarah pembentukan bintang di galaksi.

Ketika bintang-bintang kecil hingga menengah (dari sekitar 0,5 hingga 5 kali massa matahari) mendekati akhir hidup, bintang kecil berkembang menjadi bintang-bintang raksasa merah dan meniup lapisan luarnya. Ini menghasilkan awan materi yang indah dan mengembang, di mana para astronom menyebutnya dengan nebula planet.

Seiring waktu, materi dalam nebula planet ini mendingin dan mengembun menjadi butiran debu dan mineral. Beberapa butiran ini kemudian masuk ke dalam rumpun gas antarbintang, membantu membentuk generasi baru bintang, planet, asteroid dan sebagainya.

Setiap butir presolar yang hadir saat Bumi pertama kali terbentuk sekarang telah lama hilang, diubah oleh proses geologis planet Bumi, termasuk di gunung berapi dan melalui lempeng tektonik. Tetapi meteorit yang jatuh ke bumi dari batuan ruang angkasa mempertahankan kapsul waktu kosmik ini.

Sejak para peneliti mulai menemukan butiran presolar dalam meteorit pada tahun 1987, mereka telah mempelajari ini untuk mencari tahu berapa usia dan dari mana itu berasal.

Ketika partikel-partikel kecil dan energik yang disebut sinar kosmik menembus ruang, itu dapat menyerang mineral di dalam batu seperti peluru ruang kecil. Hal ini, pada gilirannya, menyebabkan beberapa atom silikon dan karbon dalam mineral ini terfragmentasi menjadi unsur-unsur lain seperti helium dan neon.

Dengan mengukur berapa banyak mineral dari meteorit Murchison diubah menjadi helium dan neon, para peneliti dapat menentukan berapa lama mereka telah terpapar sinar kosmik. Ilmuwan juga bisa memprediksi berapa usianya.

Para peneliti menemukan bahwa usia butiran silikon karbida yang mereka pelajari berkisar hingga sekitar 3 miliar tahun lebih tua dari matahari. Sebagian besar butiran ini berada di sisi yang lebih muda, meskipun ⁠hanya 4 juta hingga 300 juta tahun lebih tua dari matahari. 

Heck dan timnya berpikir berlimpahnya butir-butir presolar yang relatif muda mungkin menjadi bukti lebih lanjut bahwa Bimasakti mengalami ledakan pembentukan bintang sekitar 7 miliar tahun yang lalu. 

Melalui metode lain, para astronom telah menemukan petunjuk bahwa Bimasakti mungkin mengalami lebih banyak pembentukan bintang daripada rata-rata sekitar 7 miliar tahun yang lalu. Jadi, jika memperhitungkan waktu yang dibutuhkan bintang-bintang ini untuk berevolusi menjadi raksasa merah dan nebula planet, seharusnya ada peningkatan butiran debu yang terbentuk jutaan tahun sebelum matahari terbentuk.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA