Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Perubahan Iklim Bakal Merenggut Lebih Banyak Nyawa

Selasa 14 Jan 2020 08:39 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Dwi Murdaningsih

Penggembala rusa di Mongolia terdampak perubahan iklim.

Penggembala rusa di Mongolia terdampak perubahan iklim.

Foto: sciencefokus
Suhu tinggi memicu banyak bencana, kejahatan dan penyakit mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perubahan iklim terus menyebabkan perubahan suhu yang tidak biasa dan memicu kematian hampir 2.135 orang di Amerika Serikat akibat kecelakaan seperti jatuh, tenggelam, serangan dan lainnya. Studi dari Imperial College London, Columbia, dan Harvard dipublikasikan di jurnal Nature Medicine, memperkirakan perubahan iklim akan terus “merenggut” nyawa manusia.

Baca Juga

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memprediksi antara 2030 hingga 2050, sekitar 250 ribu orang diprediksi meninggal setiap tahunnya akibat kekurangan gizi, malaria, diare dan stres yang dikaitkan dengan suhu panas dan perubahan iklim. Sekitar 5 juta orang juga diprediksi meninggal karena bencana akibat perubahan iklim di seluruh dunia setiap tahunnya.

Studi ini juga menunjukkan betapa pentingnya penanganan kesehatan mental ketika beradaptasi dengan planet yang berubah. Karena saat ini tingkat bunuh diri di AS dan Meksiko naik seiring dengan suhu rata-rata bulanan yang lebih tinggi.

“Studi ini menyoroti betapa pentingnya kesehatan mental sebagai beban tersembunyi tidak hanya dari perubahan iklim, tetapi paparan lingkungan secara umum. Hasil kami menunjukkan bahwa mungkin ada masalah terkait mental, terutama pada orang yang lebih muda," kata penulis utama studi Robbie Parks,  dilansir The Verge, Selasa (14/1).

Selama ini, penyebab bunuh diri dan jenis cedera lain selama perubahan suhu tidak dipahami dengan baik. Tenggelam bisa terkait dengan orang berenang untuk menenangkan diri. Para peneliti juga mencatat bahwa orang cenderung lebih gelisah dalam cuaca panas. Penelitian lain menghubungkan suhu yang lebih tinggi dengan kejahatan yang lebih kejam.

Para peneliti menemukan bahwa kecelakaan transportasi dan bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi selama suhu abnormal. Angka kematian karena tenggelam juga naik diperkirakan 14 persen. Studi ini menemukan bahwa pria muda berusia antara 15 hingga 34 tahun akan menjadi mayoritas kematian, dan California, Texas, serta Florida akan menjadi yang paling terpengaruh.

Kendati demikian, para peneliti mengingatkan ada banyak hal yang bisa dicegah dan diantisipasi terkait potensi bencana akibat perubahan iklim. Karenanya, beralih menggunakan transportasi umum bisa menjadi solusi untuk mengurangi risiko mengemudi dalam cuaca ekstrem dan mengurangi polusi.

“Kita perlu menanggapi ancaman ini dengan kesiapsiagaan yang lebih baik dalam hal layanan darurat, dukungan sosial dan peringatan kesehatan,” kata Majid Ezzati, seorang penulis dan profesor di Imperial College London. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA