Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Studi Baru Ungkap Suhu Manusia Turun dalam Dua Abad Terakhir

Senin 13 Jan 2020 02:00 WIB

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Dwi Murdaningsih

Pria yang lahir pada abad ke-21 memiliki suhu 0,6 Celcius lebih rendah. Foto: Termometer inframerah.

Pria yang lahir pada abad ke-21 memiliki suhu 0,6 Celcius lebih rendah. Foto: Termometer inframerah.

Foto: Flickr
Pria yang lahir pada abad ke-21 memiliki suhu 0,6 Celcius lebih rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama ini kita mengetahui bahwa suhu normal manusia adalah 37 derajat celcius. Hal tersebut pertama kali dikemukakan oleh Dokter asal Jerman, Carl Reinhold August Wunderlich pada 1851.

Sejak saat itu, penjelasannya menjadi standar baku bagi suhu normal manusia, yaitu 37 derajat celcius atau 98,6 fahrenheit. Serta, dijadikan indikator bagi seseorang yang sehat atau sakit.

Namun, fakta tersebut rupanya tak lagi sepenuhnya benar. Berdasarkan studi terbaru, suhu manusia diketahui telah menurun dalam beberapa tahun belakangan.

Dilansir dari New Atlas, melihat catatan tersebut, tim peneliti dari Stanford yang dipimpin oleh Julie Parsonnet melakukan penelitian mendalam terkait hal tersebut. Penelitian mendalam dilakukan untuk membandingkan suhu manusia modern dengan catatan sejarah.

Untuk mengidentifikasi tren suhu tubuh saat ini, dan mungkin juga mengungkapkan alasan yang menyebabkan suhu tubuh manusia menjadi turun.

Tim peneliti Stanford melihat tiga data dari periode sejarah yang berbeda. Pertama, lewat catatan dinas militer, catatan medis, dan catatan pensiun dari veteran Union Army dari Perang Sipil Amerika yang disusun dari 1862 hingga 1930.

Kedua adalah dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional Amerika Serikat, yang dikumpulkan pada rentang waktu 1971 dan 1975. Terakhir, dari pasien dewasa yang mengunjungi Stanford Health Care dari 2007 hingga 2017.

Tim melakukan penelitian lewat pengukuran suhu pada 677.423, memastikan bahwa suhu yang dicatat lebih akurat. Mereka melihat perubahan suhu di dalam masing-masing kelompok, dari waktu ke waktu untuk memastikan bahwa kurva yang menunjukkan angka suhu yang menurun.

Hasilnya menunjukkan, pria yang lahir pada abad ke-21 memiliki suhu tubuh rata-rata 1,06 derajat fahrenheit atau 0,6 derajat celcius lebih rendah. Daripada mereka yang lahir di awal abad ke-19.

Sedangkan untuk wanita modern, menunjukkan penurunan rata-rata 0,58 derajat fahrenheit atau 0,3 derajat celcius. Dibandingkan dengan mereka yang lahir pada tahun 1890-an.

Ini menunjukkan bahwa suhu tubuh manusia telah turun 0,05 derajat fahrenheit atau 0,3 derajat celcius per dekade. Namun, karena banyak faktor yang mempengaruhi suhu tubuh, tim mengatakan bahwa tolak ukur suhu tubuh manusia tidak perlu diperbarui.

Salah satu alasan turunnya suhu tubuh manusia dikarenakan terjadinya pengurangan laju metabolisme manusia karena faktor lingkungan. Selain itu, perbaikan sistem kesehatan selam 200 tahun terakhir juga menjadi sebab suhu tubuh manusia menurun.

"Lingkungan yang kita tinggali telah berubah, termasuk suhu di rumah kita, kontak kita dengan mikroorganisme dan makanan yang kita miliki," ujar Parsonnet.

"Semua hal ini berarti bahwa walaupun kita memikirkan manusia seolah-olah kita monomorfik dan telah sama untuk semua evolusi manusia, kita tidak sama. Kita sebenarnya telah berubah secara fisiologis," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA