Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Ikan Dayung Cina Diperkirakan Segera Punah

Jumat 10 Jan 2020 21:06 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Dwi Murdaningsih

Ikan dayung Cina.

Ikan dayung Cina.

Foto: livescience
Ikan dayung Cina adalah hewan yang sangat umum di sungai Yangtze.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu ikan air tawar di dunia diperkirakan akan punah. Dalam sebuah makalah baru, para ilmuan yang dipimpin Hui Zhang dari Akademi Ilmu Pengetahuan Perikanan Cina di Wuhan, Cina beranggapan ikan duyung Cina (Psephurus gladius) punah sekitar 2005 hingga 2010.

Baca Juga

Ikan dayung Cina itu sangat umum di Sungai Yangtze. Namun, penangkapan berlebihan dan fragmentasi habitat telah menyegel spesies tersebut. Peneliti beranggapan tak ada harapan untuk mengembalikan keberadaan ikan dayung Cina tersebut.

“Karena tidak ada individu di penangkaran dan tidak ada yang dilestarikan, ikan harus dianggap punah sesuai kriteria Daftar Merah IUCN,” tulis Zhang dan rekannya dalam sebuah makalah yang terbit dalam jurnal Science edisi Maret 2020.

Dilansir di Livescience.com, ikan dayung Cina adalah makhluk yang mengesankan dengan moncong besar yang menonjol. Bentuk hidungnya memberi julukan xiang yu atau ikan gajah dalam bahasa Mandarin. Berdasarkan bukti anekdotal, ikan dayung dapat tumbuh sepenjang 23 kaki (7 meter). Ukuran itu menempatkannya di antara ikan sturgeon dan buaya sebagai ikan air tawar terbesar di dunia.

Penangkapan rutin ikan dayung di Sungai Yangtze dilakukan hingga akhir 1970an. Pada 1981, sebuah bendungan besar yang disebut Bendungan Gezhouba dibangun di sungai dan membagi populasi paddlefish Cina menjadi dua.

Bendungan juga mencegah ikan yang terperangkap di bawahnya berenang dari hulu ke anak-anak sungai tempat mereka bertelur. Spesies itu terdaftar sebagai salah satu hewan paling terancam di Cina pada 1989. Namun, populasinya terus menurun meskipun terdaftar. Penampakan terakhir untuk ikan dayung Cina yakni pada 2003 lalu.

Sekarang, Zhang dan timnya menulis bahwa ikan dayung hilang. Para peneliti menjelajahi catatan penampakan sejak 1981 dan melakukan survei lapangan pada 2017 dan 2018 di Yangtze dan anak-anak sungainya, serta danau, yakni Sungai Yalong, Sungai Heng, Sungai Min, Sungai Tuo, Sungai Chishui, Sungai Jialing, Sungai Wu, Sungai Han, Danau Dongting, Danau Poyang. Para peneliti membuat jaring ikan untuk menangkap spesies di perairan itu dan mensurvei pasar ikan lokal untuk mencari bukti bahwa spesies ikan duyung itu mungkin masih ada yang ditangkap.

Mereka menemukan 332 spesies ikan, tetapi tidak satu pun ikan dayung Cina. Data pengamatan sejarah menunjukkan bahwa beberapa ikan dayung terlihat setelah sekitar 1995. Bukti menunjukkan bahwa ikan di hulu bendungan punah secara fungsional, artinya tidak dapat berproduksi di lingkungan alam, yakni sekitar 1993. Spesies itu bertahan hingga sekitar 2005, atau paling lama 2010.

“Berdasarkan berat bukti, spesies dapat dinyatakan punah dengan kepastian tinggi,” tulis penelitian tersebut.

Hilangnya ikan dayung Cina memberi pelajaran ihwal bagaimana kelangsungan hidup spesies Yangtze yang terancam. Pertama, survei di daerah aliran sungai memungkinkan para ilmuan untuk mengawasi lebih dekat spesies apa yang sedang kritis. Sebelum survei pada 2017 lalu, survei ikan komprehensif terakhir tentang Sungai Yangtze dan anak-anak sungainya, terjadi pada 1975.

Kedua, upaya penyelamatan harus dimulai jauh lebih cepat. Sebagian besar kerja keras yang dilakukan untuk menyelamatkan ikan dayung Cina dimulai setelah 2006, kemungkinan setelah ikan itu tidak ada. Untuk mencegah kepunahan spesies, upaya penyelamatan harus dimulai sebelum 1993, ketika ikan menjadi punah secara fungsional.

Banyak spesies Yangtze, seperti buaya Cina (Alligator sinensis), tergantung pada "seutas benang." Zhang dan tim menulis bahwa buaya Cina kemungkinan masih bisa diselamatkan. Memprioritaskan kelangsungan hidup mereka sekarang, sebelum mereka melewati titik "tidak bisa kembali," mungkin merupakan satu-satunya cara menyelamatkan keanekaragaman hayati sungai yang sangat besar itu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA