Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Sinar Matahari Buatan untuk Memecah Plastik

Jumat 13 Dec 2019 05:41 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Nora Azizah

Para imulwan baru-baru ini mengatakan telah menemukan metode ramah lingkungan untuk mengubah plastik menjadi bahan kimia yang menghasilkan listrik (Ilustrasi)

Para imulwan baru-baru ini mengatakan telah menemukan metode ramah lingkungan untuk mengubah plastik menjadi bahan kimia yang menghasilkan listrik (Ilustrasi)

Foto: blogspot.com
Ilmuwan berhasil mengubah plastik menjadi asam format dengan menggunakan katalis.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Para imulwan baru-baru ini mengatakan telah menemukan metode ramah lingkungan untuk mengubah plastik menjadi bahan kimia yang menghasilkan listrik. Caranya adalah dengan menggunakan sinar matahari buatan.

Mereka berhasil mengubah plastik menjadi asam format dengan menggunakan katalis yang tidak merusak lingkungan atau menghabiskan banyak uang. Zat ini dapat digunakan dalam pembangkit listrik untuk menghasilkan listrik.

Seperti yang dilansir dari Malay Mail, Jumat (13/12), dalam percobaan laboratorium, para peneliti dari Universitas Teknologi Nanyang mencampur plastik dengan bahan kimia, yang kemudian dapat dipecah oleh sinar matahari buatan.

Plastik itu dipecah dalam enam hari. Para ilmuwan berharap proses itu dapat dilakukan di masa depan di bawah sinar matahari nyata.

“Kami dapat mengubah plastik menjadi bahan kimia yang berguna. Kami berharap bisa mengubahnya menjadi energi terbarukan, yang netral karbon,” ujar pemimpin proyek penelitian dua tahun dan berasal dari Sekolah Ilmu Fisika dan Matematika,  Soo Han Sen.

Metode daur ulang plastik lain biasanya mengharuskan dilebur menggunakan bahan bakar fosil. Ini akan menghasilkan gas rumah kaca yang merusak iklim.

Namun sejauh ini hanya sejumlah kecil plastik yang telah diubah menjadi asam format. Soo mengakui ada tantangan untuk mereplikasi proses pada skala yang lebih besar.

Diperlukan lebih banyak tenaga kerja dan dana untuk mengembangkannya. Sejauh ini para ilmuwan telah mengujinya hanya potongan plastik murni dan bukan limbah.

Sejumlah besar plastik menumpuk di darat dan dibuang ke laut di seluruh dunia. Negara-negara khususnya Asia menghadapi kritik karena gagal mengatasi masalah tersebut.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA