Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Ovo Berencana Lebarkan Bisnis Rambah Financial Services

Kamis 12 Dec 2019 16:45 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nora Azizah

PT Visionet Internasional (OVO) melakukan pelebaran sayap bisnis ke dunia finacial service atau layanan keuangan (Ilustrasi)

PT Visionet Internasional (OVO) melakukan pelebaran sayap bisnis ke dunia finacial service atau layanan keuangan (Ilustrasi)

Foto: ovo.id
OVO akan mendiversifikasi bisnisnya menyediakan layanan keuangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski dua tahun merugi, PT Visionet Internasional (OVO) masih optimistis di dunia teknologi finansial (tekfin). Langkah optimistis tersebut ditunjukkan dengan melakukan pelebaran sayap bisnis ke dunia finacial service atau layanan keuangan.

Baca Juga

Presiden Direktur OVO, Karaniya Dharmasaputra, mengatakan, OVO tidak hanya bermain sebagai dompet digital dan layanan pembayaran. OVO akan mendiversifikasi bisnisnya dengan menggandeng pihak lain menyediakan layanan keuangan (financial services), seperti asuransi dan pinjaman.

"Kami akan meluncurkan investment product. Itu kan another revenue model, another business model. Kita juga (menyasar) insurance, dengan Prudential insurance. Juga ada lending, dan lending akan terus kita perkuat," ungkap Karaniya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (12/12).

Karaniya menjelaskan, OVO tidak hanya bergantung pada satu bisnis model saja sebagai sumber pendapatan perusahaan. OVO juga telah memiliki kerja sama strategis dengan sejumlah perusahaan besar, seperti Tokopedia dan Grab, untuk menciptakan ekosistem e-commerce.

"Kita sudah ada strategic partnership dengan Tokopedia dan Grab. Sekarang e-commerce kita masih kecil, bayangkan kalau itu nanti menjadi besar of course e-money kita makin besar. Kalau itu makin besar maka financial services kita akan semakin besar juga," ucapnya.

Karaniya menambahkan, OVO memilki bujet marketing yang besar karena dipercaya memiliki bisnis jangka panjang. Pada tahun ini, OVO telah memotong bujet marketing sebesar 50 persen.

“Perlahan kami percaya bisa hasilkan revenue ke tingkat profitability. Bujet marketing akan terus kami turuni. Tapi penggunanya terus tumbuh karena masyarakat sudah nyaman dan teredukasi,” jelasnya.

Karaniya mengungkapkan, saat ini pengguna OVO sebanyak 87 juta sedangkan monthly active user sebanyak 11 juta hingga 12 juta. Adapun transaksi paling besar dari OVO berasal dari e-commerce dengan nilai transaksi lebih besar dari ride hailing maupun food beverage.

Karaniya percaya basis konsumen yang besar akan memberikan peluang untuk perusahaan bisnis digital. Modal itu akan menjadikan bisnis model yang sustainable.

"Dengan jangakuan teknologi, kita punya jangkauan untuk basis konsumen yang cukup besar. Itu yang akan mengakselerasi, seperti yang kita lihat di Facebook, Tokopedia, Lazada, Grab dan lain sebagainya," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA