Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Ukuran Burung Menyusut Akibat Perubahan Iklim

Ahad 08 Dec 2019 02:16 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Gita Amanda

Peneliti di AS menemukan ukuran burung yang bermigrasi semakin mengecil sebagai respons perubahan iklim. Migrasi burung (ilustrasi).

Peneliti di AS menemukan ukuran burung yang bermigrasi semakin mengecil sebagai respons perubahan iklim. Migrasi burung (ilustrasi).

Foto: EPA/Jim Lo Scalzo
Panjang tarsus atau tulang kaki bagian bawah burung menyusut 2,4 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO -- Penelitian terbaru dari Lab Cornell of Ornithology di New York memperkirakan 600 juta burung di Amerika Serikat (AS) mati setiap tahun setelah menabrak gedung-gedung tinggi. Namun yang menarik, peneliti menemukan semakin ke sini ukuran burung yang terbang tersebut semakin kecil atau menyusut.

Baca Juga

Selama 40 tahun terakhir, para ilmuwan dan sukarelawan dari Chicago's Field Museum telah mengumpulkan ribuan burung yang jatuh di luar gedung kaca kekar dan gedung pencakar langit di sekitarnya.  Dave Willard, manajer koleksi museum, mengambil sendiri untuk mengukur masing-masing hewan yang mati dan menyimpannya di katalog data di buku besar.

Sekarang, para ilmuwan telah menganalisis dataset Willard yang sangat rinci dalam sebuah penelitian yang diterbitkan minggu ini di Ecology Letters. Dilansir Discovery, Sabtu (7/12), penelitian menunjukkan bahwa selama empat dekade terakhir, ukurna burung yang bermigrasi telah menyusut. Perubahan yang menurut penulis adalah hasil dari perubahan iklim.

Pada 1978, Willard pertama kali mendengar tentang burung-burung yang menghantam McCormick Place, yang terletak lebih dari satu mil dari Field Museum. Suatu pagi, dia berjalan di sekitar gedung untuk menemukan beberapa burung mati tergeletak di tanah.

Sejak itu, Willard dan sukarelawan lainnya telah mengumpulkan lebih dari 100 ribu burung mati. Dan Willard meluangkan waktu untuk mengukur setiap spesimen individu dengan saksama, mencatat panjang paruh, kaki, dan sayap hewan dengan kaliper (instrumen presisi untuk mengukur benda-benda kecil) dan massa mereka dengan skala. Dia kemudian menuliskan semua hasilnya di sebuah buku besar dengan tulisan tangan.

Awalnya, kata Willard, idenya adalah untuk melihat apakah pola cuaca yang berbeda berdampak pada beragam spesies yang memulai perjalanan epik lintas benua dari tahun ke tahun. Tetapi ketika para ilmuwan melihat besarnya jumlah burung yang bertabrakan dengan bangunan kota, mereka menyadari potensi untuk mempelajari apakah perubahan signifikan secara statistik benar-benar terjadi.

"Saya seorang penghasil data yang lebih baik daripada sebagai seorang penganalisa data. Dan perubahannya cukup kecil sehingga kita tidak bisa melihatnya," kata Willard.

Dalam studi tersebut, sebuah tim ilmuwan dari University of Michigan menganalisis pengukuran dari 70.716 unggas mati dari 52 spesies, seperti thrush, burung pipit dan warblers, yang telah dikumpulkan antara tahun 1978 hingga 2016.

Mereka menemukan bahwa semuanya mengalami penurunan dalam ukuran tubuh keseluruhan, dengan penurunan signifikan secara statistik pada 49 spesies. Panjang tarsus, atau tulang kaki bagian bawah, misalnya, menyusut 2,4 persen.

"Yang kami akhirnya sadari adalah seberapa konsisten tren itu pada spesies yang berbeda," kata Ben Winger, penulis senior studi dan ahli biologi di University of Michigan.

Pada saat yang sama, panjang sayap burung menunjukkan peningkatan rata-rata 1,3 persen. Para ilmuwan menemukan bahwa spesies dengan penurunan ukuran tubuh tercepat juga memiliki perolehan sayap tercepat selama jangka waktu 40 tahun.

Tim peneliti menyatakan bahwa ukuran burung yang menyusut kemungkinan merupakan respons terhadap pemanasan suhu global. Di dalam spesies tertentu, jelas Winger, individu yang hidup di daerah beriklim dingin biasanya lebih besar daripada yang ditemukan di daerah yang lebih hangat.

"Karena ini adalah pola yang telah dikenali orang selama lebih dari 150 tahun, sudah diprediksi bahwa kita akan mulai melihat hal ini seiring waktu ketika iklim menghangat," kata Winger.

Singkatnya, tubuh yang lebih besar membantu hewan tetap hangat di iklim dingin, sementara makhluk yang lebih kecil menahan lebih sedikit panas. Sementara itu, rentang sayap burung yang meningkat mungkin merupakan adaptasi yang memungkinkan mereka melanjutkan perjalanan lintas benua musiman mereka, bahkan dengan tubuh yang lebih kecil yang menghasilkan lebih sedikit energi.

Tetapi Winger juga mencatat bahwa burung yang berkembang di sarang pada suhu yang lebih hangat cenderung memiliki tubuh yang lebih kecil saat dewasa. Para ilmuwan mengatakan bahwa analisis lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah burung yang menyusut benar-benar berevolusi untuk beradaptasi dengan tekanan perubahan iklim atau menjalani respons perkembangan cairan, seperti bayi, terhadap suhu yang lebih panas.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA