Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

IoT Bisa Bantu Peritel Kembali Naikkan Omset

Jumat 06 Dec 2019 17:05 WIB

Red: Budi Raharjo

Country Manager Indonesia PT GCR IoT Indonesia, Andi Tanudiredja (kanan).

Country Manager Indonesia PT GCR IoT Indonesia, Andi Tanudiredja (kanan).

IoT juga bisa dipakai di industri manufaktur yang disebut sebagai smart manufacturing

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penerapan Internet of Things (IoT) di Indonesia terbilang lambat. Padahal perkembangan teknologi informasi itu bisa dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan termasuk di sektor usaha.

Country Manager Indonesia PT GCR IoT Indonesia, Andi Tanudiredja, mencontohkan IoT bisa digunakan para pengusaha ritel di Tanah Air. Dengan menyebut aplikasi ini sebagai smart retail, ia mengatakan, IoT bisa mengembalikan omset pasar ritel yang saat ini sedang mengalami tren penurunan.

Baca Juga

"IoT bisa membantu mencari tahu perilaku konsumen sehingga peritel bisa menekan biaya dan menaikkan pendapatan," ujar Andi di Jakarta, Jumat (6/12).

Andi mengatakan IoT bisa memberikan analisa harian kebiasaan konsumer dan aktivitas harian di toko atau ritel. Dengan begitu, peritel bisa melakukan efisiensi berdasarkan data-data tersebut. "Jadi yang diberikan solusi berdasarkan data," ujarnya menegaskan. "Di India, smart ritail sudah banyak diterapkan."

GCR IoT Indonesia, Andi mengungkapkan, mulai memasuki sektor ritel. Saat ini, perusahaan sedang uji coba di salah satu e-mall. GCR juga sedang uji coba di sejumlah peritel besar yang diharapkan bisa dapat dieksekusi. "Ini untuk jangka panjang," ucapnya.

Menurut Andi IoT juga bisa diterapkan di industri manufaktur yang disebut sebagai smart manufacturing. Ia mencontohkan IoT bisa digunakan untuk melacak barang yang sedang dalam perjalanan distribusi atau melacak barang yang tersimpan di gudang. "IoT akan memudahkan pencarian barang di gudang sehingga bisa segera diterima konsumen, sedang produksi tetap bisa terus berjalan," katanya.

Saat ini IoT di Indonesia belum berkembang pesat. Andi menilai ada sejumlah kendala seperti kecepatan teknologi, infrastruktur, modal, dan SDM. Ia mencontohkan penerapan teknologi 5G yang bisa membantu percepatan IoT di Indonesia baru akan diterapkan pada 2022.

"Tiga tahun lagi terlalu lama, sedang di India akan mulai diberlakukan tahun depan. Pada 2022, teknologi mungkin sudah mencapai 6G," ujarnya memaparkan.

Sebagai anggota Aptiknas (Asosiasi Pengusaha TIK Nasional), GCR berpartisipasi dalam meningkatkan pengetahuan IoT di sekolah dan komunitas IT di Tanah Air. Bersama Kemenperin, GCR akan mewakili Aptiknas dalam TIICF (Forum Taiwan Indonesia Kolaborasi Industri 2019 yang akan digelar di Taipeh 9-10 Desember 2019.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA