Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Ridwan Hasan Sebut Guru Matematika Harus Berbasis Nalar

Rabu 04 Dec 2019 15:26 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Gita Amanda

Ridwan Hasan Saputra mendorong guru-guru matematika di Indonesia mendapat pelatihan mengajar berbasis nalar.

Ridwan Hasan Saputra mendorong guru-guru matematika di Indonesia mendapat pelatihan mengajar berbasis nalar.

Foto: RepublikaTV
Pemerintah harus memberi pelatihan cara mengajar matematika berbasis nalar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Ridwan Hasan Saputra menyebut hasil dari (Programme for International Students Assessment) PISA 2018 harus menjadi pembelajaran untuk semua guru terutama guru pelajaran matematika. Pemerintah harus memberikan pelatihan kepada guru tersebut dengan cara mengajar matematika yang berbasis nalar.

“Pembelajaran matematika di Indonesia itu belum standar secara nasional dan internasional. Tidak ada pengukuran melatih nalar. Sehingga siswa pun tidak terlatih dengan soal-soal yang berbasis nalar, seperti geometri, soal cerita dan angka,” katanya saat dihubungi Republika, Rabu (4/12).

Ridwan menambahkan sekolah negeri yang ada di Indonesia tidak mengembangkan kemampuannya dalam pelajaran matematika. Kebanyakan sekolah swasta yang mengikuti pelatihan. Padahal, harusnya mereka terus belajar mengikuti perkembangan zaman. Jangan hanya berhenti di tempat saja. Hal ini membuat lemahnya pikiran kritis dan kreatifitas.

Lalu, ia melanjutkan pemerintah juga harus mengadakan pelatihan pelajaran matematika pada guru secara langsung atau dalam bentuk digital. Ridwan melihat para guru sekarang malas untuk belajar lagi. Sehingga sampai sekarang kemampuan mereka hanya sebatas yang mereka punya.

“Mereka wajib berlatih setiap hari. Apalagi soal-soal yang berbasis nalar. Guru sekarang malas belajar dan ikut kompetensi. Sehingga siswanya pun tidak berkembang. Saat Sekolah Dasar (SD) sudah tidak benar pengajarannya ditambah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Siswa pun jadi malas belajar matematika,” kata dia.

Kemudian, terkait soal PISA jarang ditemui di sekolah. Sehingga siswa pun tidak terlatih dengan soal-soal yang memainkan logika. Jadi, jika ingin memperbaiki PISA kedepannya, guru, siswa dan orang tua harus bekerja sama untuk dunia pendidikan.

“Guru matematika harus dilatih cara mengajar matematika yang berbasis nalar. Guru matematika harus punya motivasi belajar yang tinggi untuk selalu lebih baik. Bagian motivasi ini yang berat, banyak guru yang sudah berada di zona nyaman,” kata dia.

Ridwan menegaskan perlu adanya asesmen secara nasional, sebenarnya Ujian Nasional (UN) ini bisa jadi sebagai asesmen, bukan syarat lulus tapi jadi alat ukur agar bisa mengevaluasi hasil belajar pendidikan di indonesia. “Kalau kemampuan berpikir kritis generasi muda kami lemah. Sulit bagi indonesia bersaing dengan negara lain,” ujar dia.

Sebelumnya diketahui, hasil dari PISA 2018 menunjukan untuk kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 74 dari 79 negara. Artinya kategori kemampuan membaca Indonesia berada pada peringkat lima dari bawah alias peringkat 74.

Sementara skor rata-rata Indonesia adalah 371, berada di bawah Panama yang memiliki skor rata-rata 377. Sedangkan untuk kategori matematika skor rata-rata 379. Lalu, kategori sains skor rata-rata adalah 396.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan laporan dari hasil PISA sangat penting karena memberikan perspektif pada suatu instansi untuk mengukur kemampuannya. Sehingga kedepannya bisa meningkatkan bidang pendidikan yang lebih baik.

“Dengan ini kami sadari untuk memperbaiki kedepannya. Sekarang waktunya guru sebagai penggerak untuk muridnya. Tidak hanya mata pelajaran tetapi juga hal lain agar murid sekarang bisa mempelajari semuanya,” katanya saat sambutan di Kemendikbud, Jakarta Pusat, Selasa (3/12).

Kemudian,kata dia, harus ada cara belajar baru dengan berbagai macam perspektif. Ia mengaku Kemendikbud akan melakukan inovasi dan terobosan yang diperlukan untuk mempercepat proses dan melakukan lompatan di bidang pendidikan. Salah satu yang sedang dikaji adalah pembenahan sistem asesmen.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA