Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Kentang Bisa Jadi Solusi Krisis Pangan Dunia

Sabtu 30 Nov 2019 13:24 WIB

Rep: Zainur mahsir ramadhan/ Red: Dwi Murdaningsih

Petani memotret kentang yang baru dipanen menggunakan gawai di perladangan desa Tambi, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah, Senin (14/10/2019).

Petani memotret kentang yang baru dipanen menggunakan gawai di perladangan desa Tambi, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah, Senin (14/10/2019).

Foto: Antara/Anis Efizudin
Kentang ditanam di benua mana saja kecuali antartika.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Taman kentang di disebut-sebut bisa mencegah krisis pangan dunia. Ilmuwan sedang mencari cara menanam panganan yang tahan iklim dengan melihat 'museum kentang' di Peru.

Para peneliti beranggapan bahwa tujuan dibentuknya Potato Park ini sebagai sinyalir bahwa kentang bisa menjadi makanan pokok yang dimakan jutaan orang setiap harinya. Para peneliti juga sedang mencari cara dan metodologi untuk mengidentifikasi genetik umbi agar daya hidupnya semakin kuat.

Potato Park memiliki bentangan wilayah sekitar 90 Km persegi. Potato Park yang berlokasi di Cusco, lembah suci Inca, berada di ketinggian 4.900 Mdpl.

"Di sana, mereka memelihara salah satu keanekaragaman kentang asli tertinggi di dunia, dalam proses evolusi yang konstan,” kata Alejandro Argumedo, pendiri Asociación Andes, seperti dilansir The Guardian, Sabtu (30/11).

Menurut dia, dengan menanam kentang di ketinggian dan kombinasi berbeda, kentang tersebut dapat menghasilkan genetik baru. Hal tersebut dinilai penting untuk merespon perubahan iklim. 

Selain itu, di Peru, sejak 7 ribu tahun yang lalu memang telah melakukan domestikasi kentang oleh nenek moyang para petani. Arkeolog menyebut, lokasi itu ditanam di tepi danau Titicaca, antara Peru dan Bolivia modern saat ini. Ilmuwan menyebut kentang saat ini ditanam di setiap benua, kecuali Antartika.

Diketahui bahwa cara petani terdahulu dinilai bermanfaat untuk diaplikasikan pada tanaman saat ini. Hal ini  mengingat sering terjadinya kekeringan, banjir dan salju

Oleh sebab itu, para peneliti mengatakan bahwa saat ini kentang menjadi tulang punggung bagi pemanasan global. Para peneliti kini juga sedang melakukan tes untuk melihat seberapa tahan varietas asli itu terhadap salju, hujan es dan sinar matahari yang intens dan juga terhadap bonggol kentang jenis Andes.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA