Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Rekrut Personel dengan TikTok, Angkatan Darat AS Dikritik

Rabu 13 Nov 2019 07:00 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Nora Azizah

Aplikasi Tiktok.

Aplikasi Tiktok.

Foto: ist
Kritik dilayangkan anggota senat AS dari Partai Demokrat, Chuck Schumber.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Anggota Senat Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Chuck Schumber, mengkritik angkatan bersenjata AS yang menggunakan media sosial asal China, TikTok, untuk perekrutan personel. Kritik itu diketahui publik, pada Selasa (12/11), setelah Schumer mempublikasikan surat yang ia kirim kepada Sekretaris Militer Angkatan Darat AS, Ryan McCharty.

"Saya memahami bahwa tentara harus menyesuaikan teknik perekrutannya guna menarik kaum muda AS agar mau mengabdi, (namun) saya mendesak Anda untuk memperhitungkan potensi risiko keamanan nasional yang ditimbulkan perusahaan teknologi milik China sebelum memilih platform tertentu," tulis Schumer dalam suratnya tertanggal 7 November 2019 itu, sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (12/11).

TikTok, sebuah aplikasi video yang populer di kalangan remaja berumur 20-an, telah tumbuh lebih populer di kalangan remaja AS. Padahal, pada saat bersamaan, tensi antara Beijing dan Washington sedang meningkat perihal perdagangan dan transfer teknologi.

Pihak TikTok telah menegaskan bahwa mereka independen dari negara China. Namun, pernyataan itu tak bisa menenangkan para senator AS ihwal keamanan data pribadi warganya yang menggunakan aplikasi tersebut.

Pihak TikTok menyatakan bahwa pengguna aktif platform mereka di AS per bulan mencapai 26,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, 60 persen di antaranya adalah mereka yang berusia 16 dan 24 tahun.

"Pakar keamanan nasional telah menyuarakan keprihatinannya tentang pengumpulan dan pengolahan data pengguna Tiktok, termasuk konten para pengguna dan komunikasi, IP Address, data terkait lokasi, metadata, dan informasi personal lainnya yang sensitif," tulis Schumer.

Schumer mengaku sangat prihatin dengan undang-undang Tiongkok yang mengharuskan perusahaan domestik untuk mendukung dan bekerja sama dengan pekerjaan intelijen yang dikendalikan oleh Partai Komunis China. Schumer pun meminta agar angkatan darat AS untuk menjawab pertanyaan mengenai konsultasi intelijen yang telah dilakukan mengenai TikTok.

Komite antar-lembaga Investasi Asing di Amerika Serikat (CFIUS) dilaporkan juga telah melakukan peninjauan keamanan nasional terhadap perusahaan pemilik TikTok, Beijing ByteDance Technology Co, yang mengakuisisi aplikasi medial sosial AS Misical.ly senilai 1 miliar dolar.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA