Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Berkaca dari Polusi Udara di India

Kamis 07 Nov 2019 13:53 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Kota New Delhi, India (Ilustrasi)

Kota New Delhi, India (Ilustrasi)

Foto: Flickr
New Delhi, India, terus berada di daftar kota dengan kualitas udara buruk di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Udara yang harus dihirup oleh semua orang di New Delhi telah dilaporkan menyebabkan mata terasa seperti terbakar. Fakta yang sangat menyedihkan dari krisis ini adalah para pejabat di kota itu meminta orang-orang tetap tinggal. Namun, saran medis dari badan-badan kesehatan di New Delhi adalah agar semua orang menghindari aktivitas fisik di luar ruangan.

Pada dasarnya, krisis udara ini terjadi bukan karena virus, namun penyebabnya adalah polusi dari kegiatan pertanian dan transportasi di New Delhi. Lebih dari satu dekade lalu, sebuah studi yang dilakukan Pemerintah India pernah memprediksi ketidaklayakan udara di Ibu Kota negara Asia Selatan itu.

Dilansir melalui theatlantic.com, Kamis (7/11), studi itu telah memperingatkan bahwa krisis udara kemungkinan besar terjadi karena emisi lebih dari delapan juta mobil di New Delhi. Sejak saat itu, udara di kota ini terus berada di tingkat yang paling berbahaya di dunia, bahkan beberapa waktu terakhir telah menjadi kategori tidak layak huni.

Seringkali, tingkat kualitas udara yang buruk terjadi pada waktu-waktu di mana para petani di India melakukan pembakaran ladang setelah panen. Kondisi ini semakin menambah kabut asap, yang sebenarnya telah ada dan berbahaya dari pembakaran bahan bakar fosil.

Emisi otomotif dan industri mengisi udara di New Delhi dengan nitrogen, sulfur dioksida, dan karbon hitam, yang termasuk partikel kecil yang menembus jauh ke dalam paru-paru. Selama beberapa hari terakhir, tingkat udara di kota itu telah melampaui 10 kali lipat berbahaya dari standar yang ditetapkan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (AS).

Bahkan, gagasan yang menyebutkan kondisi aman dalam tingkat kualitas udara di New Delhi menjadi perdebatan. Hal itu karena bahkan level yang sangat rendah dari pencemaran udara di sana telah ditemukan sebagai penyebab penyakit.

Selama ini, polusi udara adalah penyebab utama kematian dini di beberapa bagian dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan hal ini sudah menyumbang lebih dari seperempat kematian akibat kanker paru-paru dan penyakit jantung.

Baca Juga

 

photo
Polusi Udara di New Delhi, India. (Ilustrasi) (Dok. Wikipedia)


Sebuah studi lainnya juga menemukan partikel udara yang berbahaya saja sudah membuat setidaknya 1,9 juta orang di Asia meninggal pada 2015. Kemudian di beberapa wilayah di Cina, satu dari 20 kematian terjadi disebabkan oleh kualitas udara yang buruk.

Situasi yang semakin buruk dari waktu ke waktu di New Delhi tentu menjadi pertanda krisis di daerah perkotaan lain di seluruh dunia. Tercatat, separuh dari kota di dunia tidak memenuhi standar keselamatan WHO. Bahkan, bagi orang-orang yang mampu tinggal di dalam ruangan tanpa batas waktu, tetap ada dampak buruk kesehatan yang mereka dapatkan.

Krisis udara New Delhi mencapai puncaknya dalam pekan yang sama ketika AS secara resmi memberitahu PBB bahwa negara adidaya itu akan menjadi satu-satunya negara di antara 196 yang menandatangani Perjanjian Iklim Paris 2015. Melalui kesepakatan itu, seluruh negara yang tergabung di dalamnyya berkomitmen untuk menetapkan target emisi. Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa komitmen terhadap energi yang berkelanjutan justru menimbulkan beban ekonomi. 

Sementara, fakta yang ada menunjukkan tahun demi tahun, dampak ekonomi dari jalur lingkungan dunia saat ini sedang berlangsung di New Delhi. Penerbangan menuju ke kota itu seringkali harus dibatalkan, hingga sekolah-sekolah terpaksa ditutup sementara.

Sejumlah proyek pembangunan yang dilakukan di New Delhi juga terhenti dan rumah sakit dibanjiri dengan para pasien yang mengalami efek kronis dalam beberapa dekade mendatang sebagai akibat polusi udara. Banyak orang harus kehilangan pekerjaan mereka, karena ada yang menjadi cacat akibat penyakit dan terpaksa harus keluar dari pekerjaan mereka.

Pada akhirnya, orang-orang yang terkena dampak krisis udara ini lebih banyak menjalani perawatan medis dan mengandalkan bantuan dari pemerintah. Ini adalah masa  depan ekonomi yang diundang oleh status quo. Bahkan untuk orang-orang terkaya di dunia, yang mungkin dapat menjamin pasokan udara dan makanan, stabilitas mereka tetap akan bergantung pada miliaran orang di seluruh dunia yang masih harus pergi ke luar ruangan untuk memenuhi kebutuhan itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA