Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Efek Buruh Bermain Gim dengan Postur Tubuh tak Tepat

Rabu 06 Nov 2019 15:53 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Gamer (Ilustrasi)

Gamer (Ilustrasi)

Foto: Istimewa
Beberapa masalah akan dirasakan saat bermain gim dengan posisi tubuh yang salah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri video gim yang semakin populer membuat banyak orang menghabiskan waktu untuk bermain di depan gawai, maupun layar komputer mereka. Namun, hal ini tentu bisa memiliki efek buruk, terutama jika postur tubuh yang dimiliki saat bermain tidak tepat.

Dilansir Venture Beat, Rabu (6/11), para gamer sudah seharusnya mengetahui tentang ergonomi. International Ergonomics Association mendefinisikan ini sebagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pemahaman interaksi diantara manusia dan elemen lain dari suatu sistem, serta profesi yang menerapkan teori, prinsip, data, dan metode untuk mendesain dan  mengoptimalkan kesejahteraan manusia dan kinerja sistem secara keseluruhan.

Terkait dengan gim yang populer saat itu, ergonomi menjadi acuan untuk memeriksa bagaimana para pemain berinteraksi dengan perangkat keras dan alat yang digunakan. Standar dalam ergonomi gim ini nampaknya belum cukup.

Biasaya, masalah ergonomi yang dialami para gamer adalah cedera regangan pergelangan tangan yang berilang. Ini telah terjadi sejak Nintendinitis ditemukan pada pertengahan tahun 80-an.

Munculnya masalah ini adalah karena posisi jari yang terus bergerak. Para ahli kesehatan telah melaporkan gangguan peredaran darah, tenosinovitis, dan bahkan kerusakan tulang belakang sebagai akibat dari stres sendi yang berkelanjutan.

Hal itu juga bisa menimbulkan seseorang kehilangan keseimbangangan atau konsentrasi. Karena itu, ergonomi yang buruk tidak hanya membahayaka kesehatan, tetapi juga seorang gamer akan sulit untuk menang dalam permainan.

Kemudian masalah mata juga menjadi salah satu efek buruk yang dialami gamer. Menatap layar terlalu dekat dan lama menjadi faktor utama. Masalah-masalah ini mulai dikenali sejak awal 1990-an, ketika sebuah penelitian di Jepang menyarankan agar orang-orang yag bermain game untuk membatasi diri seperti hanya 60 menit atau kurang per hari.

Namun, para gamer profesional rata-rata bermain mencapai lima hingga 10 jam per hari. Hal inilah yang membuat potensi cedera mereka meningkat. Bahkan, dokter sudah menyarankan agar kebiasaan ini dihentikan, terutama saat sudah mulai terasa adanya sakit di area seperti pergelangan tangan, leher, serta punggung.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA