Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Arkeolog: Tidak Ada Pribumi Asli Indonesia

Selasa 05 Nov 2019 18:47 WIB

Red: Nora Azizah

Sejumlah pengunjung saat melihat pameran bertajuk Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) di Museum Nasional, Jakarta, Kamis (7/11).

Sejumlah pengunjung saat melihat pameran bertajuk Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) di Museum Nasional, Jakarta, Kamis (7/11).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Genetika ras di Indonesia sudah bercampur meski berasal dari pohon evolusi sama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menurut arkeolog Dr Harry Widianto tidak ada yang bisa disebut sebagai pribumi asli di Nusantara. Hal ini berdasarkan genetika sendiri ras di Indonesia sudah bercampur, meski berasal dari pohon evolusi yang sama dan berasal dari Afrika.

"Kita itu rumit karena datang dari mana-mana. Dari Afrika datang, Melanesia masuk, dari Australia Tenggara ada, dari Taiwan dan China juga ada. Yang bermigrasi ke Nusantara itu sangat banyak," ujar Harry dalam diskusi Jejak Manusia Nusantara dan Peninggalannya yang diadakan oleh Historia.id di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (5/11).

Harry menjelaskan bahwa nenek moyang Indonesia berdasarkan genetis sendiri berasal dari beberapa gelombang migrasi. Hal ini dimulai ketika manusia modern atau Homo sapiens keluar dari benua Afrika sekitar 150.000 tahun lalu.

Homo sapiens itu bermigrasi ke wilayah yang kini disebut sebagai Indonesia melewati jalur selatan Asia menuju Paparan Sunda sekitar 70.000-45.000 tahun lalu. Keturunan tersebut menetap di timur nusantara sekitar daerah Papua dan Halmahera, mereka kini disebut sebagai ras Melanesia.

Sementara itu sekitar 4.000 tahun lalu terjadi migrasi oleh penutur Austronesia yang juga berciri subras Mongoloid yang berasal dari Taiwan. Kelompok yang keluar dari Taiwan itu sendiri sebenarnya berasal dari daerah Fujian yang berada di China modern saat ini.

Kelompok yang keluar dari Taiwan itulah yang menjadi nenek moyang suku-suku dan etnis di Indonesia bagian barat. Itu sebabnya tidak mengherankan jika genetik Tionghoa besar di wilayah tersebut.

Sementara itu, jika ditelusuri secara genetika orang-orang yang berada di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur adalah pencampuran dari kedua ras tersebut. Terjadi evolusi lokal, ada juga pertemuan dua bentuk fisik yang menghasilkan pencampuran DNA.

"Jadi kita ini bermacam-macam. Ada juga pendatang dari Taiwan, jadi kompleks tidak bisa digeneralisasi. Tapi kita berasal dari pohon evolusi yang sama sejak 70.000 tahun lalu," ujar arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta itu.

Dia menegaskan bahwa harus bisa membedakan antara ras dan etnis. Ras adalah berdasarkan fakta biologis, genetika yang berada di dalam tubuh sementara suku dan etnis adalah bentukan dari budaya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA