Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Keragaman Genetika Tunjukkan Orang Indonesia Sangat Toleran

Rabu 16 Oct 2019 00:05 WIB

Rep: Antara/ Red: Indira Rezkisari

Pengunjung melihat diorama manusia purba yang dipajang di Museum Trinil, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (9/7/2019).

Pengunjung melihat diorama manusia purba yang dipajang di Museum Trinil, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (9/7/2019).

Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Hasil riset tunjukkan gen moyang orang Indonesia sangat beragam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keragaman genetika orang Indonesia menunjukkan bahwa orang Indonesia sangat toleran menurut ahli genetika dari Lembaga Eijkman Prof Herawati Sudoyo. Pada peluncuran pameran "ASOI: Asal Usul Orang Indonesia" di Museum Nasional, Jakarta, Selasa (15/10), ia mengatakan bahwa genetika orang Indonesia tersusun atas berbagai gen dari bangsa-bangsa di dunia yang datang dalam empat gelombang migrasi pada masa lalu.

Dia menjelaskan, ada empat gelombang migrasi spesies Homosapiens. Yaitu manusia modern, ke Nusantara dan migrasi pertama datang dari Afrika melewati jalur selatan Asia menuju Paparan Sunda.

"Gelombang pertama ini mereka jalan saja dari Afrika, waktu itu Kalimantan, Jawa, dan Sumatra masih menjadi satu daratan dan lautnya pendek," kata Hera.

Menurut dia, migrasi gelombang pertama dilakukan oleh kelompok besar dan berlangsung dalam waktu ratusan ribu tahun. Kelompok besar yang melakukan migrasi pada gelombang pertama mengembara melewati berbagai lingkungan berbeda dan hal itu mempengaruhi perubahan fisik mereka.

Pada gelombang kedua, para penutur Austroasiatik bermigrasi dari Asia daratan menuju Vietnam dan Kamboja melewati Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang pada masa itu masih menyatu.

"Apakah manusia gelombang kedua ini berkompetisi atau berperang dengan manusia gelombang pertama untuk berebut lahan? Ternyata tidak, karena kalau melihat dari DNA itu ada campurannya, terjadi kawin-mengawin antara mereka," kata Hera.

Selanjutnya, pada gelombang ketiga migrasi, para penutur Austronesia dari Formosa atau Taiwandatang membawa paket budaya neolitik. Yaitu berupa gerabah, beliung, seni, bahasa, teknologi maritim, pengolahan makanan, serta domestikasi hewan.

Sementara migrasi gelombang keempat terjadi pada zaman sejarah. Pada masa ini bangsa India, Arab, dan Eropa datang ke Nusantara. Pembauran pun menjadi semakin kompleks.

Hera mengatakan bahwa menurut hasil riset yang dia lakukan pada 110 populasi etnik dari 19 pulau dari Sabang hingga Merauke di Indonesia menunjukkan bahwa gen moyang Indonesia sangat beragam. Semakin ke timur, semakin banyak ditemukan gen dari moyang yang datang dalam migrasi awal.

"Ini menunjukkan bahwa orang Indonesia sebenarnya sangat bertoleransi. Mereka kebanyakan tidak menghabisi atau saling berperang untuk mendapatkan lahan, tetapi yang terjadi adalah pembauran. Dari dulu ternyata masyarakat yang telah menetap menerima masyarakat yang baru, dan yang baru juga beradaptasi dengan masyarakat yang lama," kata dia.



Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA