Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Lampu Pijar Listrik Ini Terbuat dari Tanah Liat

Ahad 13 Oct 2019 17:55 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Dwi Murdaningsih

Lampu pijar listrik yang memanfaatkan tanah liat sebagai  penghasil listrik. Lampu ini dihasilkan lulusan UIN Sunan Kalijaga  Yogyakarta.

Lampu pijar listrik yang memanfaatkan tanah liat sebagai penghasil listrik. Lampu ini dihasilkan lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Foto: Dok Humas UIN Suka
Produk ini sudah digunakan secara massal.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta, berhasil mengembangkan produk lampu pijar dengan memanfaatkan tanah liat sebagai penghasil listrik. Pencipta lampu pijar listrik tersebut yakni lulusan Prodi Teknik Industri, Vindy Fitriana Martanti.

Karya tersebut merupakan hasil skripsi yang dikembangkan Vindy. Skripsinya diberi judul Desain Produk Penghasil Listrik Arus DC Memanfaatkan Tanah Liat Merah (ETAM) dengan Metode Quality Function Deployment (QFD).

Lampu pijar listrik dengan memanfaatkan tanah liat tersebut dikembangkan Vindy di Desa Mura Dilam, Kecamatan Kunto Darusalam, Kabupaten Rukan Hulu, Riau. Dalam risetnya, bahan dasar lampu pijak menggunakan akrilik.

Namun, dalam praktiknya, ia menyesuaikan dengan kondisi di Desa Mura Dilam. Sehingga, digunakan lah tanah liat sesuai dengan apa yang ada di daerah tersebut.

Bahkan, sudah hampir satu tahun lampu tersebut dikembangkan di Desa Mura Dilam. Ia pun sudah memproduksi secara massal dan masyarakat pun juga sudah banyak yang memanfaatkan hasil karyanya.   

Vindy menjelaskan, dalam desain karyanya tersebut, setiap sel voltanya menghasilkan voltase + 0,4 volt. Untuk sel volta terdiri dari tanah liat merah yang sudah memiliki kadar air +- 40 persen.

"Anoda dan Katodanya Al (auluminium) dan Cu (tembaga). Sementara untuk membantu ionisasi memakai larutan air garam. Komposisi desain seperti itu mampu menyalakan lampu 12 volt dengan 20 sel volta," ujar Vindy dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id belum lama ini.

Desain lampu pijar listrik tersebut mudah diproduksi di wilayah-wilayah yang memiliki kondisi tanah liat merah. Biaya produksinya pun, kata Vindy, dapat terjangkau oleh masyarakat dan dapat bertahan hingga delapan bulan.

"Hanya dibutuhkan perawatan seperlunya, karena ionisasi memakai air garam. Sehingga perlu pengecekan kelembaban tanah, korosi pada cu dan al. Energi tanah liat merah (ETAM) merupakan penghasil energi listrik terbaik, karena memiliki senyawa sulfat atau SO4," ujarnya.

Selain itu, agar tegangan tetap stabil, perawatan lampu harus dengan mengecek komponen dari sel volta. Yakni berupa pergantian plat seng dan plat tembaga yang mengalami korosi dalam rentang delapan bulan sekali.

"Injeksi cairan garam ke dalam sel volta jika sudah mulai kering," tambahnya.

Lampu pijak listrik yang dikembangkan di Desa Mura Dilam ini menggunakan elektroda berbentuk silinder pejal. Menurutnya, bentuk ini merupakan yang terbaik.

"Untuk anodanya menggunakan lempeng tembaga dan katodanya dari lempeng seng," katanya.

Lampu pijar listrik ini bisa dipakai untuk penerangan jalan dan penerangan rumah tangga. Dengan biaya yang murah, hanya diperlukan perawatan. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA