Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Penghasilan tak Stabil Bisa Pengaruhi Otak

Sabtu 12 Oct 2019 05:52 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Esthi Maharani

Kesehatan otak.

Kesehatan otak.

Foto: Pixabay
Kesehatan otak pekerja berpenghasilan tidak stabil akan lebih buruk ketika paruh baya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang dewasa muda yang tidak memiliki pendapatan stabil, atau menerima pemotongan gaji yang besar, dalam jangka waktu panjang akan memiliki kesehatan otak yang buruk.

Menurut penelitian terbaru, kesehatan otak para pekerja dengan penghasilan tidak stabil nantinya pada usia paruh baya akan lebih buruk dibandingkan dengan orang yang berpenghasilan tetap.

Para peneliti mengumpulkan data pendapatan selama dua dekade untuk 3.287 orang dewasa, dimulai pada 1990 ketika mereka berusia 23 hingga 35 tahun. Mereka menilai volatilitas pendapatan berdasarkan pada seberapa banyak pendapatan naik atau turun dari satu tahun ke tahun berikutnya, dan juga menghitung berapa kali pendapatan peserta turun setidaknya 25 persen.

Orang-orang yang mengalami volatilitas pendapatan yang lebih besar dan lebih banyak pemotongan gaji memiliki skor lebih buruk untuk kecepatan pemrosesan dan fungsi eksekutif dalam tes kognitif pada tahun 2010.

Pemindaian otak tahun itu juga menunjukkan berkurangnya materi putih ikat dan integritas struktural yang lebih buruk bagi orang-orang yang mengalami lebih banyak volatilitas pendapatan dan pemotongan gaji.

"Secara keseluruhan, volatilitas pendapatan dan kondisi sosial ekonomi yang tidak menguntungkan dapat meningkatkan paparan terhadap beberapa faktor risiko kesehatan otak yang buruk," kata Adina Zeki Al Hazzouri, peneliti di Mailman School of Public Health di Universitas Columbia di New York City.

Dia menjelaskan, individu yang mengalami fluktuasi pendapatan penting mungkin lebih berisiko terhadap faktor risiko kardiovaskular, depresi atau stres yang dirasakan, yang pada gilirannya terkait dengan kesehatan kognitif yang buruk.

Selain itu, mereka mungkin memiliki akses yang lebih rendah ke layanan kesehatan berkualitas tinggi, yang dapat mengakibatkan manajemen yang lebih buruk dari faktor-faktor risiko ini, dan mempotensiasi dampaknya terhadap kesehatan otak.

Perubahan nilai tes kognitif dan pemindaian otak tampaknya tidak berbeda ketika para peneliti hanya melihat peserta dengan pendidikan terbanyak. Hampir setengah dari peserta, 1.780 orang, tidak memiliki penurunan pendapatan 25 persen atau lebih selama masa studi. Orang-orang dalam grup ini memiliki pendapatan tahunan rata-rata 39.681 dolar AS (Rp 555 juta).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA