Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Langit Jambi Berwarna Merah Saat Siang, Ini Penjelasannya

Ahad 22 Sep 2019 13:47 WIB

Rep: Adam Maulana Sarja/ Red: Nidia Zuraya

Langit di wilayah Muaro Jambi berwarna merah.

Langit di wilayah Muaro Jambi berwarna merah.

Foto: foto istimewa
Langit Jambi berwarna merah saat siang hari dikarenakan fenomena hamburan mie

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa hari terakhir, beredar video viral di masyarakat, langit di Muaro Jambi berwarna merah, karena sinar matahari tertutup asap tebal. Badan Metrologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mencatat peristiwa itu dapat dijelaskan secara ilmiah.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-8, asap dari kebakaran hutan dan lahan itu berbeda dari daerah lain yang juga mengalami kebakaran. Wilayah lain pada satelit tampak berwarna cokelat, namun di Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan bahwa lapisan asap yang sangat tebal.

Hal itu dimungkinkan karena kebakaran lahan atau hutan yang terjadi di wilayah tersebut, terutama pada lahan-lahan gambut.

Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto menjelaskan, tebalnya asap juga didukung oleh tingginya konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 20 mikron (PM10).

"Jika ditinjau dari teori fisika, langit berwarna merah ini, disebabkan oleh adanya hambutan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil disebut aerosol, dikenal juga istilah 'hamburan mie'," kata Siswanto, Ahad (22/9).

Selanjutnya, 'hamburan mie', terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak matahari. Selain itu, panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer.

"Kita mengetahui bahwa konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru. Tetapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi. Ini berarti debu polutan di daerah tersebut dominan berukuran sekitar 0,7 mikrometer atau dengan konsentrasi sangat tinggi," kata Siswanto.

Selanjutnya, ia menjelaskan, selain konsentrasi tinggi, sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah. Lalu, mengapa dikatakan ukuran partikel bisa lebih dari 0,7 mikrometer? Ini dikarenakan mata manusia hanya dapat melihat pada spektum visibel (0,4-0,7 mikrometer).

"Tahun 2015, di Palangkaraya juga pernah diberitakan beberapa kali mengalami langit berwarna oranye akibat kebakaran hutan dan lahan, yang berarti ukuran debu partikel polutan (aerosol) saat itu dominan lebih kecil / lebih halus (fine particle) daripada fenomena langit memerah di Muaro Jambi kali ini," katanya menambahkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA