Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

'Hari tanpa Bayangan' akan Terjadi di Sumbar

Kamis 12 Sep 2019 20:52 WIB

Red: Nora Azizah

Matahari. ILustrasi

Matahari. ILustrasi

Foto: Dailymail
Fenomena alam ini terjadi karena posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Minangkabau Padang Pariaman memperkirakan akan terjadi hari tanpa bayangan di sejumlah wilayah di Sumatera Barat. Peristiwa alam ini diperkirakan akan terjadi pada 23 hingga 28 September 2019.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha di Padang, kamis (12/9), mengatakan fenomena tersebut diistilahkan sebagai kulminasi, transit atau istiwa', yakni fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Ia juga mengatakan, saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai Kulminasi Utama.

Kulminasi utama diperkirakan akan terjadi pada 23 hingga 28 September 2019 di sejumlah wilayah di Sumbar, yakni di Padang, Sarilamak, Lubuk Sikaping, Simpang Ampek, Payakumbuh, Padang Panjang, Bukittinggi, Muaro Sijunjung, Sawahlunto, Solok, Parit Malintang, Pariaman, Sungai Dareh, Arosuka, Padang Aro, Painan, Tua Pejat. " kulminasi matahari sebenarnya merupakan peristiwa alam biasa, tidak berbahaya," ujar dia.

Menurut Yudha, pada saat itu matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda yang tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri.

"Maka hal itu dikenal sebagai hari tanpa bayangan," kata dia.

Hari tanpa bayangan tersebut terjadi karena bidang ekuator bumi atau bidang rotasi bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi bumi. "Sehingga posisi matahari dari bumi akan terlihat berubah terus," sambung dia.

Ia juga mengatakan, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat matahari berada di khatulistiwa. Peristiwa ini terjadi karena mengingat posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator.

Yudha menjelaskan, peristiwa tersebut sebagai tanda bahwa akan terjadi pergantian musim. Matahari seolah bergerak dari utara ke selatan dan sebaliknya, serta siklus tersebut akan berulang setiap tahunnya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA