Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Bukan Hanya Perusahaan Game, Ini Gurita Bisnis Milik Tencent

Rabu 28 Aug 2019 10:45 WIB

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id

Bukan Hanya Perusahaan Game, Ini Gurita Bisnis Milik Tencent. (FOTO: Reuters/Aly Song)

Bukan Hanya Perusahaan Game, Ini Gurita Bisnis Milik Tencent. (FOTO: Reuters/Aly Song)

Tencent dikenal oleh khalayak sebagai perusahaan video game terbesar.

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta

Perusahaan milik Ma Huateng, orang terkaya di China, yakni Tencent dikenal oleh khalayak sebagai perusahaan video game terbesar. Tencent telah memproduksi video game yang merajai industri gaming saat ini, antara lain Fortnite, League of Legends (LoL), dan Call of Duty.

Namun, melansir dari Business Insider (28/8/2019), Tencent bukan hanya bergerak di video game saja. Tak ayal apabila perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan yang bernilai tinggi.

Tencent ternyata juga memiliki bisnis teknologi film, di antaranya Men In Black International yang diproduksi oleh Tencent Pictures.

Baca Juga: Makin Tajir, Bos Tencent Dulang Untung Rp44 Triliun Berkat Game Smartphone

Saat ini, Tencent juga akan menggarap bisnis film yang akan datang, yakni Top Gun: Maverick, dan Terminator: Dark Fate.

Bukan hanya itu, Tencent juga menjalankan aplikasi WeChat dan pesan instan QQ yang keduanya memiliki lebih dari satu miliar pengguna.

Tencent pun turut berkontribusi dalam layanan musik, buku komik dan e-commerce. Karena bisnisnya melimpah ruah, menjadikan Ma seorang miliarder dengan berbagai aliran pendapatan.

Apabila menengok model bisnis yang dijalankan Tencent, mereka menerapkan taktik bisnis dengan berinvestasi atau mengakuisisi pembuat game. Mereka pernah membeli Riot Games, studio asal Los Angeles yang membuat LoL dan Teamfight Tactics.

Baca Juga: Tencent Membeli Lady Gaga, Ariana Grande, dan The Beatles

Selanjutnya, Tencent juga memiliki saham Epic Games (developer Fortnite) sebesar 40 persen, Supercell (developer CoC, Clash Royale dan Brawl Stars) sebesar 84 persen.

Tencent Games menjadi salah satu divisi di bawah nama Tencent. Bisnis Tencent ternyata masih lebih besar, jadi mungkin saja tingkat kegagalannya memiliki dampak yang lebih kecil karena secara keseluruhan usahanya benar-benar menggurita. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA