Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Aplikasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat Kesehatan Hadir di Google Playstore

Kamis 05 Sep 2019 06:21 WIB

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id

 Ilustrasi Kecelakaan Kerja

Ilustrasi Kecelakaan Kerja

Foto: Republika/Mardiah
Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) dibentuk

Warta Ekonomi.co.id, Bandung---Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) yang merupakan program CSR dari PT IDS Medical Systems Indonesia menginisiasi pembentukan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI).

Komunitas berbasis teknologi informasi dan komunikasi ini memungkinkan seseorang memberikan sekaligus mendapatkan pertolongan dan penanganan gawat darurat secara cepat dan tepat.

Ketua Umum IndoHCF, Supriyantoro mengatakan KREKI dibangun guna mendukung program Sistem Penanggulan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dalam rangka meningkatkan mutu dan kecepatan pertolongan pertama terhadap penanganan gawat darurat.

“Waktu menjadi unsur terpenting dalam kondisi gawat darurat. Bayangkan jika dalam kondisi tersebut orang itu tidak ditangani secara cepat dan tepat. Yang seharusnya bisa selamat, justru malah memperparah kondisi korban atau bahkan meninggal dunia. Inilah yang melatarbelakangi pembentukan komunitas ini,” ujar Supriyantoro dalam keterangan resminya di Bandung, Rabu (4/9/2019)

Baca Juga: Siapkan Amunisi Lewat UU, Sri Kejar Google, Amazon cs

KREKI merupakan akronim dari semangat yang melandasi pendirian komunitas tersebut yakni Kompeten, Responsif, Empati, Komunikatif, dan Inovatif.

Supriyantoro mengatakan, peristiwa gawat darurat seperti kecelakaan, penyakit akibat gaya hidup tidak sehat, atau bencana alam bisa terjadi pada siapa pun, kapan pun, dan di manapun.

Menurutnya, keadaan-keadaan tersebut membutuhkan penanganan yang tepat dan akurat agar tidak berakibat pada kecacatan permanen atau kematian.

Komunitas yang didirikan 5 Desember 2018 ini terdiri dari berbagai unsur di masyarakat baik individu maupun komunitas.

Adapun, menjadi relawan, maka orang tersebut minimal telah mendapatkan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) singkat tentang bagaimana teknik menolong orang dalam kondisi gawat darurat seperti henti jantung, tersedak benda asing, tersengat petir dan listrik, tenggelam, cara mengangkut korban, pembidaian, dan lain sebagainya.

Pelatihan tersebut bisa diselenggarakan oleh KREKI sendiri ataupun organisasi maupun institusi yang berkompeten.

“Jadi, meskipun anggota komunitas adalah masyarakat awam tapi mereka telah memiliki kemampuan dan terlatih dalam memberikan pertolongan dalam kondisi gawat darurat,” katanya.

Guna semakin memperluas jangkauan layanan KREKI, IndoHCF membangun aplikasi “KREKI-119” yang bisa diunduh melalui Google Playstore.

Dengan aplikasi tersebut memungkinkan korban atau orang terdekat mendapatkan pertolongan pertama dari relawan yang selanjutnya akan berkoordinasi dengan PSC-119 atau dengan fasilitas kesehatan terdekat untuk mengevakuasi dan merawat korban.

Hingga kini, lanjut Supriyantoro, KREKI telah memberi pelatihan BHD kepada 1.452 orang dari berbagai komunitas di Jakarta. Tidak hanya itu, KREKI juga aktif menjalin kerjasama dan kemitraan dengan berbagai yayasan, komunitas, dan pemerintah daerah.

“Kami berharap KREKI mampu membawa banyak manfaat, memberi kontribusi konstruktif bagi nusa dan bangsa, khususnya dalam hal penanganan kasus-kasus kegawatdaruratan di masyarakat yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia dan mendorong upaya konstruktif dalam hal peningkatan keselamatan dan keamanan di ranah kesehatan,” pungkasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA